Jangan Selamatkan Pohon, Selamatkan Manusia!


HEADER GREENPEACE

Saya bisa dibilang penggemar tayangan National Geographic dan Animal Planet. Sejak kecil saya sangat senang kalau ada tayangan dari dua channel tersebut yang disiarkan di TV nasional, dulu sih seringnya TPI kalo ga salah. Tentunya karena sering menyaksikan acara dokumenter wildlife saya dari kecil tahu kalau hutan adalah rumah bagi berbagai macam hewan dan tanaman. Oleh karena itu saya juga tahu kalau hutan itu harus dijaga agar hewan dan tanaman itu tidak punah begitu saja. Saya pun terfikir kenapa tidak diberi pagar yang tinggi saja biar tetap terjaga dari tangan manusia. Terdengar seperti solusi yang cerdas waktu itu. (disclaimer: ide ini *mungkin* terlahir di kamar mandi, tempat dimana semua orang merasa secerdas Plato)

Tapi ternyata itu tidak cerdas…

Bukan (hanya) karena memagari hutan akan sangat mahal tetapi yang lebih penting lagi adalah karena hutan juga habitat manusia. Ya fakta itulah yang selama ini sering saya dan/atau kebanyakan orang lupakan. Sebagai warga urban, sangatlah wajar jika saya berfikir urban sentris dan merasa bahwa manusia itu harusnya tinggal di sebuah rumah yang ada jalan aspal dan terhubung dengan tempat bekerja mereka (yang juga ada aspalnya). Gambaran habitat manusia tersebut memang valid hingga ke desa-desa sekitar kota.

Hingga suatu saat saya diajak untuk membuat semacam video dokumenter tentang Hutan Kemasyarakatan oleh Lutfi Retno yang belakangan saya tahu ternyata seorang blogger. Hanya kurang dari 20km dari Kota Jogja saya menemukan sekelompok masyarakat yang hidupnya bergantung dari hutan negara. Di pedalaman Kabupaten Gunungkidul saya bertemu dengan para petani Hutan Kemasyarakatan. Mereka mengolah dan sekaligus menjaga tanah hutan negara. Meskipun hutan yang dimaksud bukan hutan tropis lebat yang sering kita bayangkan, tetapi saya menyadari suatu hal yaitu penghuni hutan bukan hanya hewan dan tanaman, tetapi manusia, living breathing human.

Manusia yang tinggal dan bergantung dengan hutan tidaklah sedikit bahkan mungkin manusia adalah primata terbanyak yang tinggal di hutan saat ini. Oleh karena itu faktor terpenting yang harus diperhatikan dalam menyelamatkan hutan adalah bagaimana menyelamatkan manusia. Huh? Menyelamatkan manusia?. Faktanya adalah 21% masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dapat dikategorikan miskin. Kemiskinan, dimanapun itu, selalu akan menimbulkan masalah.

Nah, kembali ke Gunungkidul tadi. Disana juga ada masalah kemiskinan dan diperparah dengan masalah kekurangan air. Dulu ketika belum banyak perhatian dari pemerintah dan masyarakat sipil lain, penduduk lokal sering menebangi hutan untuk dijual kayunya. Ketika hutan habis, ya sudah, pergilah mereka mencari pekerjaan di kota-kota besar meninggalkan tanah Gunungkidul yang gersang dan kekeringan. Hingga bertahun kemudian munculah berbagai macam model pengelolaan yang salah satunya adalah Hutan Kemasyarakatan. Saya sebenernya masih belum begitu faham bagaimana sebenernya prosesnya karena saya cuma tukang bikin film, mungkin bisa anda pelajari sendiri dari video hasil kerja saya waktu itu. Salah satu tokoh dalam film itu yaitu ibu Rokhimah adalah contoh manusia yang dapat turut serta membantu pelestarian hutan.

Tetapi kita tahu hutan semakin rusak…

Artinya, lebih banyak manusia yang tidak seperti ibu Rokhimah. Manusia yang memanfaatkan hutan tanpa memberi kembali manfaat kepada hutan. Manusia yang tega menebang ribuan pohon, mengambil gading gajah atau menangkap orang utan untuk dijual.

Memang mudah bagi saya dan mungkin juga anda untuk mengutuk orang-orang itu. Mudah karena kita tinggal di kota dengan jalan yang bagus, mall yang bagus dan mungkin dengan pekerjaan yang bagus. Kita juga memiliki pendidikan yang cukup untuk mengembangkan diri. Sehingga merambah hutan tidak terdengar menjanjikan sama sekali.

Situasi yang berbeda dihadapi manusia yang tinggal di dekat hutan. Dengan pendidikan yang relatif minimal dan angka kemiskinan yang tinggi serta peluang kerja dan usaha yang belum jelas, tawaran untuk merambah hutan terdengar sangat menjanjikan. Tanpa perlu pendidikan yang tinggi dan modal mereka bisa mendapatkan pendapatan yang cukup lumayan dari merambah hutan.

Apa yang harus dikerjakan?

Mengkritik atau atau menulis blog memang mudah. Tetapi harus ada hal yang kita kerjakan. Hal paling mudah adalah mencari tau dan menyebarkan info tentang perusahaan yang banyak merusak hutan. Greenpeace telah memiliki beberapa laporan tentang hal ini antara lain tentang Nestle dan Sinarmas. Lebih jauh lagi anda bisa ikut mendukung gerakan Protect Paradise, karena menyelamatkan harimau dimulai dari menyelamatkan habitatnya yaitu hutan.

Tetapi pekerjaan yang paling besar adalah mendidik masyarakat sekitar hutan agar mereka mampu memanfaatkan hutan dengan bertanggung jawab sekaligus melindunginya dari pengusaha nakal. Gerakan menanam sejuta pohon memang baik, tetapi menanam pohon itu gampang, merubah manusia itulah yang sulit tapi harus dilakukan.

Featured header image: http://www.deviantart.com/art/Forest-14921689

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s