Buruh vs Feudalisme Intelektual


Demonstrasi buruh menuntut upah minimum yang lebih besar akhir-akhir ini sering direspon oleh kelas menengah dengan mengatakan “Lulusan SMP SMA langsung dapat 2 juta, enak banget” atau “Wah mending jadi buruh daripada dokter yang gaji awalnya 1 jutaan”. Tentunya sambil menghina gaya hidup buruh yang suka naik motor gede.

Bagi sebagian besar orang kecuali buruh mungkin ini adalah logika yang sangat wajar. Menurut saya juga wajar, tetapi artinya kita harus mengakui bahwa kita hidup di negara feudal bukan meritokrasi. Ya, satu-satunya monarki yang masih efektif berkuasa hanya ada di Jogja. Tetapi yang muncul sekarang ada feudalisme intelektual.

Ciri khas feudalisme klasik adalah seseorang memiliki posisi lebih tinggi karena dia landlord atau anggoa kerajaan. Singkat cerita sistem ini diyakini runtuh dan digantikan sistem kapitalisme dimana orang yang mampu mengolah dan mengakumulasi kapital adalah pemenang. Konon katanya semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam kapitalisme.

Konon..

Hingga suatu saat di suatu masa. Sekumpulan buruh yang dituduh lulusan SMP dan SMA padahal lulusan SMK turun ke jalan, mogok dan meminta upah yang lebih tinggi. Masyarakat yang lain pun marah kepada mereka, entah apa yang telah para buruh ini lakukan sebelumnya tetapi orang-orang langsung mencemooh mereka sebagai pemalas bodoh yang pingin enak sendiri. Tetapi bukankah kita semua seperti itu? Ingin lebih santai dan menikmati hidup yang lebih menyenangkan. Apakah kita bekerja dan mencari uang karena kita menikmatinya atau karena peer pressure yang mengharuskan kita terlihat produktif?

Kembali ke feudalisme, itulah yang terjadi. Tetapi bukan feudalisme ala raja dan raji Eropa tetapi feudalisme intelektual. Dimana untuk mencapai status sosial tertentu seseorang harus mengenyam pendidikan tertentu. Boleh-boleh saja bahkan akan menjadi kisah syahdu bagi sebagian besar kelas menengah ketika ada satu dua lulusan SD dan SMP yang sukses. Tetapi ketika ribuan orang yang dituduh lulusan SMP menyuarakan impian mereka, itu adalah bahaya.

Hmm.. Hari sudah dini hari.. Waktunya untuk kembali ke pangkuan bantal dan guling. Mungkin kita akan lanjut lagi di waktu yang akan datang.

One thought on “Buruh vs Feudalisme Intelektual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s