Rindu Kami Padamu Ya Baret Merah


Baju Putih bersama Baret Merah

Tanpa mengurangi kerinduan masyarakat kepada Rasul seperti yang diungkapkan Bimbo. Masyarakat sepertinya juga merindukan kehadiran satu kelompok yang pernah menjadi ikon kekuatan sebuah rezim di masa lalu. Kopassus, pasukan elit dari sebuah Republik dengan 220 juta penduduk, akhir-akhir ini menjadi sorotan setelah peristiwa Cebongan. Rasanya tidak perlu menghabiskan waktu dan bandwidth untuk menjelaskan peristiwa tersebut.

Hal yang membuat saya terkejut bukanlah reaksi masyarakat yang memaklumi penyerangan 11 anggota Kopassus. Sangat wajar karena masyarakat Jogja apalagi warga asli babarsari dan tambakbayan sudah muak dengan ulah preman yang dibekingi aparat tersebut. Hal yang mengejutkan saya adalah kenyataan bahwa masyarakat menginginkan lebih, mereka menginginkan tentara melanjutkan pemberantasan preman. Di berbagai spanduk, media sosial, surat pembaca, sms pembaca serta di warung-warung masyarakat ingin tidak cuma 4 orang preman yang mati. Mereka ingin TNI atau lebih spesifik lagi Kopassus memberantas premanisme, sebuah tugas yang seharusnya dijalankan oleh polisi.

Tetapi yang paling menyedihkan bukan si Kopassus atau Polri atau masyarakat, tetapi Presiden kita yang terhormat si SBY. Lagi-lagi dia seperti tidak merasa ada yang benar-benar gawat di negara ini. Padahal jelas supremasi hukum sedang dalam titik terendahnya.

Entah apa yang sebenarnya masyarakat rindukan, pemimpin yang tegas, keamanan atau memang rindu kepada baret merah. Kalo menurut saya, masyarakat rindu kepada monopoli kekerasan. Ya, idealnya kekerasan hanya dimonopoli oleh negara. Rumus paling idealnya adalah kekerasan dari negara oleh negara untuk rakyat. Tetapi jika yang terjadi dari negara oleh negara untuk pemimpin negara seperti yang terjadi pada rezim Suharto, hasilnya ya banyak penyalahgunaan kekerasan dan kekuasaan. Meskipun begitu masyarakat mungkin merindukan hal itu, mereka tahu cara paling aman menjalani hidup adalah tidak usah macam-macam dengan Suharto, Tentara dan kroninya. Berbeda dengan jaman sekarang dimana kekerasan bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan Aceng si tukang kawin ketika akan diturunkan memberi peringatan bahwa Garut akan rusuh. Organisasi Mas-mas (Ormas) keagamaan maupun kesukuan menebar teror dimana-mana, belum lagi orang-orang yang memang dedicated sebagai teroris, belum lagi pemilihan kepala daerah atau jabatan lain yang sering rusuh.

Rindu kami padamu ya baret merah adalah rindu kepada kekerasan yang Esa.

One thought on “Rindu Kami Padamu Ya Baret Merah

  1. Membenarkan tindakan oknum kopassus, sekali lagi oknum bukan institusi kopassus, sama saja membenarkan setiap orang yang tengah menjalani kasus hukum bisa dibantai di LP atau ruang tahanan…Sungguh bangsa yang sakit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s