Jika agama adalah candu, di Indonesia Islam adalah Ketamine for the people


Mari memulai tulisan ini dengan pertanyaan yang paling tidak kontroversial, apa itu Ketamine? Ketamine atau yang sering disebut dengan special-K adalah salah satu jenis anti-depressant yang sering digunakan secara ilegal sebagai narkotik. Efek super-hallucinogen ini sangatlah unik, dia membuat penggunanya mengalami disasosiasi dengan dirinya sendiri. Ketika narkoba lain membuat orang merasa fly dan tenang maka special-K membuat penggunanya keluar dari tubuhnya dan menjadi orang  yang baru. Pada dosis yang tinggi pengguna special-K akan memasuki fase K-Hole dimana mereka akan merasa menjadi manusia yang baru dan sama sekali tidak sadar atau bahkan ingat tentang dirinya yang lama. Tentunya efek ini hanya berlangsung singkat, tetapi konon cukup menyenangkan. Inilah yang membuat Special-K menjadi salah satu narkoba yang cukup mahal, konon dua kali lebih mahal dari Heroin.

Oke, enough with Special-K, sekarang langsung saja ke alasan kenapa tulisan ini saya tulis. Akhir-akhir ini telinga saya cukup risih dengan seringnya ayat-ayat Al-Quran dikumandangkan. Alasannya bukan karena saya tidak suka dengan ayat-ayat Al Quran, justru saya sangat merasa damai ketika mendengar murottal khususnya Surat Al-Anfal. Yang membuat saya risih adalah orang-orang yang sering mencomot al-Quran dan agama Islam di TV sebagian adalah orang yang memiliki masalah dengan moralnya. Mulai dari pedangdut yang mengalami Megalomania disorder, koruptor beserta pengacaranya, organisasi mas mas yang suka bertindak anarkis hingga Bupati berkelakuan minus.

Selain itu hal lain yang cukup mengusik saya adalah betapa seringnya para pemimpin daerah mengadakan salawatan dan lain sebagainya.  Tentunya masalahnya bukan salawat untuk Nabi yang memang dianjurkan tetapi adalah kenyataan bahwa pemimpin daerah tersebut tidak menjalankan tugasnya dengan baik bahkan cenderung banyak masalah. Selain itu acara tabligh akbar salawatan sering kali memakan resource daerah dan yang lebih parah lagi adalah para hadirin di acara tersebut hampir selalu melanggar peraturan lalu lintas.

Saya pun lantas teringat dengan kata-kata Marx bahwa agama adalah candu masyarakat yang oleh Lenin ditambah menjadi agama adalah candu bagi masyarakat. Tetapi candu hanya membuat orang rilex dan melihat dunia lebih indah. Candu membuat orang melupakan masalah tetapi candu masih membuat orang ingat tentang dirinya sendiri, siapa dia dan kenapa dia memakai candu. Jika orang-orang tak bermoral menjadikan agama sebagai candu maka mereka belum tentu bisa cukup bernyali mendengungkan ayat-ayat al-Quran karena mereka masih ingat diri mereka sendiri. Paling banter ayat-ayat al-Quran hanya digunakan untuk menenangkan diri dan mengurangi rasa bersalah.

Tetapi yang kita lihat sehari-hari adalah orang-orang tersebut mengutarakan ayat-ayat Allah dengan percaya diri seakan dirinya adalah hanya satu tingkat di bawah Nabi, atau bahkan setara dengan Nabi. Hal ini membuat saya berfikir, di Indonesia ini agama khususnya Islam bukanlah opium, tetapi ketamine. Orang-orang yang sudah mendengungkan ayat-ayat Allah apalagi yang sudah haji sering merasa dosa-dosanya cepat luntur. Dia mendisasosiasikan kejahatan dan dosa yang dia lakukan dari dirinya. Dia merasa dirinya yang sudah mendengungkan ayat Al Quran adalah orang yang baru sama seperti pengguna special-K.

Kenapa hal ini terjadi? Saya menduga hal utama penyebab mudahnya ayat-ayat Allah menjadi ketamine adalah pendidikan agama kita yang dari kecil menekankan tentang surga dan neraka. Seakan-akan kita beragama hanya supaya terhindar dari neraka dan masuk surga. Apakah pernah anda diajarkan atau mengajarkan efek sosial yang diharapkan oleh Nabi melalui berbagai ajarannya. Paling banter ya cuma zakat dan idul adha. Islam sebagai rahmatan lil alamin hanya didengungkan ketika terjadi konflik beragama. Islam telah dirubah dari sebuah ajaran yang berusaha memberi manfaat sebesar-besarnya untuk semua mahkluk menjadi sebuah doktrin kaku tentang how to reach heaven for dummies.

Solusinya sebenernya sederhana, pelajaran agama Islam harusnya tanpa kurikulum dan lebih berbentuk sesi tanya jawab tentang kejadian sehari-hari. Guru agama Islam seharusnya dididik menjadi konsultan yang pada waktu pelajaran mampu menjawab pertanyaan muridnya tentang dunia dan akhirat. Hal ini tidak hanya berguna bagi murid tetapi juga bagi sang guru karena dia juga dipaksa untuk selalu belajar. Tentunya ini adalah tantangan yang sulit, tetapi bukankah kita harus percaya bahwa akan terdapat kemudahan setelah kesulitan?

3 thoughts on “Jika agama adalah candu, di Indonesia Islam adalah Ketamine for the people

  1. scara pribadi sich gue setuju gan kalaw agama hmpir mirip kyak candu,,,dan tentunya bisa dlihat kan efeknya d msyrakat bhwa hampir sbgian besar orang trlebih d indonesia kcanduan akan agama,,jdinya bkan mnjadi bijak krena agama,tp malah salah kaprah kmana mana mengikuti romantisme pmikiran yg lebay,,,,so sy setuju sama agan klw musti ada penyegaran cara memandang agama dr dini gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s