My Thought Experiments on Time Travel


Kemarin (16 April 2012), cuaca Jogja sangatlah panas. Konon katanya mencapai lebih dari 32 derajat celcius. Malam harinya, ketika seharusnya saya berkonsentrasi pada hal yang lebih penting tiba-tiba otak saya berontak dan memikirkan sesuatu yang lain. Otak saya mengingat kembali cuaca panas siang hari yang kemudian mendorong saya memikirkan tentang matahari yang kemudian membawa saya teringat bahwa jarak matahari dan bumi kalau tidak salah adalah 9 detik cahaya. Artinya, matahari yang kita lihat saat ini adalah matahari 9 detik yang lalu. Lalu saya terpikir, setiap hari kita menikmati time travel. Ketika melihat matahari mata kita bertamasya ke 9 detik yang lalu, ketika melihat rasi bintang kita bertamasya ke 1000 hingga 4000 tahun yang lalu.

Lalu tiba-tiba saya berpikir, jika kondisi tersebut dibalik misal kita berada di Matahari berarti kita bisa melihat bumi 9 detik yang lalu. Dan jika kita berada di salah satu planet di rasi Orion kita bisa melihat bumi 4000 tahun yang lalu. Artinya, rana bumi ini ketika Piramid sedang dibangun masih dalam perjalanan menuju rasi Orion.

Saya menyimpulkan bahwa melihat wajah bumi di masa lalu secara teori sangatlah dimungkinkan, pada prakteknya teknologi untuk melakukan itu belum ada. Berikut ini syarat-syarat teknologi untuk dapat melihat masa lalu menurut saya:

Superluminal Travel

Sebenarnya ini bukanlah syarat mutlak. Meski hanya dengan kecepatan seadanya, kita bisa melihat masa lalu jika berhasil menempatkan kamera di Neptunus atau objek dengan jarak yang signifikan untuk melihat masa lalu. Tetapi jika dilakukan dengan kecepatan yang kurang dari kecepatan cahaya maka yang terjadi hanyalah kita melihat visualisasi yang tertunda. Sederhananya seperti ini, Hari ini kita mengirimkan satelit ke Proxima Centauri yang terletak 4 tahun cahaya. Misalkan kita bisa mencapai setengah kecepatan cahaya, maka satelit itu akan sampai dalam waktu 8 tahun atau tahun 2020. Maka flashback visual bumi yang kita dapatkan adalah bumi pada tahun 2016. Karena kemampuan mengirimkan signal juga belum bisa melebihi kecepatan cahaya, maka visualisasi itu baru bisa diterima di bumi antara tahun 2024 – 2028. Tentunya pencapaian ini sangatlah tidak signifikan dan relatif tidak berguna.

Pemanfaatan terbesar dari time travel adalah memastikan kejadian-kejadian di masa lalu yang belum terekam kamera seperti pembangunan piramid, keruntuhan Roma, perang Napoleon dan lain sebagainya. Jika kita belum bisa mengirimkan informasi dan objek melebihi kecepatan cahaya, maka tidak mungkin untuk mendapatkan gambaran bumi sebelum peluncuran satelit perekam bumi ke luar angkasa.

Misalnya jika kita ingin melihat kelahiran Yesus 2000 tahun yang lalu, maka kita harus berhasil menempatkan satelit perekam bumi di sistem lengan Orion dalam waktu kurang dari 2000 tahun. Untuk mencapai waktu itu, satelit tersebut harus memiliki kecepatan 2 kali kecepatan cahaya atau 2c.

Sinkronisasi Time-Dilation dan Spatial-Dilation

Masalah lain yang muncul adalah menghadapi distorsi ruang dan waktu. Saya kurang begitu memahami teori relativitas Einstein, tetapi setidaknya ada dua dampak dari teori itu yaitu bahwa waktu dipengaruhi oleh gravitasi dan cahaya cenderung dibelokan ketika berhadapan dengan gravitasi. Hal ini tentunya akan sangat mempengaruhi bagaimana cara agar kamera yang melihat bumi dari lengan Orion dapat selalu tepat menggambarkan bumi. Jika dengan teknologi yang ada sekarang ini, maka ketika kita meletakan kamera di Orion, meski mungkin dapat merekam dengan resolusi yang jelas tetapi akan terjadi fenomena red-shift, dimana cahaya yang berwarna merah yang lebih dulu diterima, artinya visualisasi bumi mungkin bukan lagi biru, atau bisa saja visualisasinya tercampur antara warna biru dari masa yang lebih maju dengan warna merah dari masa lalu.

Untuk saat ini, penjelasan saya sampai disini dulu. Sebenarnya masih banyak hal yang terbersit di otak saya termasuk cara mencapai kecepatan superluminal dengan menggunakan orbit komet sebagai jalur luncur. Tetapi itu nanti saja, toh saya bukan seorang ahli fisika, hanya ahli berkhayal.

2 thoughts on “My Thought Experiments on Time Travel

  1. micdisuksesjaya says:

    masuk akal broo, saya juga sependapatan dg anda, mungkin anda cm mengkhayal tp sebenarnya time trafel atau mesing waktu benar2 ada, bisa d buktikan scara teori dari agama maupun praktek melalui sains hasilnya match,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s