SO 1 Maret: Hari Pencitraan Indonesia


Warga Jogja tentunya mengenal monumen serangan umum 1 Maret yang terletak di 0 kilometer Kota Jogja. Sesuai dengan namanya, monumen ini memperingati sebuah peristiwa yang kemudian sejarahnya diputar balikan oleh Suharto si penipu ulung. Dalam otobiografinya jelas-jelas Suharto mengatakan dia memprakarsai serangan itu karena ketidak jelasan kondisi dan posisi Panglima Besar Jendral Sudirman.
Pada kenyataanya, Serangan Umum 1 Maret adalah aksi show of force singkat yang tersusun dengan baik yang memiliki tujuan agar rakyat dunia tahu bahwa Indonesia dan TNI masih ada.
Ide pertama serangan show of force ini berasal dari Letkol dr. Hutagalung yang merupakan dokter Panglima Besar Jendral Sudirman. Beliau mengusulkan hal ini saat sedang merawat Jendral Besar yang sudah tiga bulan tidak dapat berjalan karena sakit paru-paru. Jendral Sudirman menyetujui hal ini, kemudian memerintahkan Letkol dr. Hutagalung untuk mengutarakan idenya kepada Gubernur Militer Letkol Bambang Sugeng yang bermarkas di lereng Gunung Sumbing. Bambang Sugeng yang dikenal sebagai pemimpin perang yang agresif kemudian mempersiapkan 3 grup perang yang dimiliki. Grup III yang dipimpin Letkol Suharto bertugas menyerang kota Jogja, Grup I dan II menyerang kota Magelang dan Solo agar bala bantuan dari Belanda tidak dapat segera dikirim ke Jogja.
Entah siapa yang memberi ide, rapat itu juga memikirkan bagaimana caranya agar serangan itu bisa efektif untuk show of force. Terdapat 2 hal penting yang kemudian muncul, pertama, dalam serangan tersebut dipersiapkan pemuda-pemuda yang tinggi besar dan bisa bahasa belanda dan inggris untuk memasuki hotel merdeka tempat wartawan dan anggota PBB tinggal. Hal Kedua adalah memerintahkan TB Simatupang untuk mempersiapkan siaran dari stasiun radio rahasianya di daerah Playen Gunung Kidul.
Disinilah letak kejeniusan pemimpin militer saat itu, mereka tahu tidak mungkin menguasai kota Jogja lebih dari dua jam mengingat kekuatan Belanda di Magelang sangatlah besar dan bisa segera sampai ke Jogja dalam waktu singkat. Pertempuran yang terjadipun tidak begitu sengit, berdasarkan catatan HB IX, strategi serangan ini adalah hit and run dengan jalan masuk ke area malioboro dari selatan. Meskipun begitu mereka sukses sampai ke hotel merdeka dan sempat menunjukan kegagahan “perwira” TNI.
Pada saat yang bersamaan, TB Simatupang yang telah mempersiapkan berita perang sejak tanggal 28 Februari menyiarkan pada jam 2 siang bahwa TNI berhasil melakukan serangan ke jantung kota Jogja. Disini terlihat bahwa TB Simatupang belajar dari Belanda yang sering mempersiapkan laporan perang yang heroik bahkan sebelum pertempuran itu terjadi.
Pertempuran terbesar pada tanggal 1 Maret sebenarnya terjadi di jalur Jogja Magelang dimana hampir 200 prajurit Indonesia gugur melawan divisi kavaleri KNIL.
Serangan Umum 1 Maret skalanya memang jauh lebih kecil dan tidak seheroik Palagan Ambarawa, perang 10 November atau gerilya divisi Siliwangi. Tetapi serangan umum 1 Maret adalah saat dimana untuk pertama kalinya bangsa ini melakukan pencitraan yang terorganisir. Ide memakaikan baju perwira TNI pada pemuda yang bisa berbahasa belanda dan inggris meski bukan tentara adalah ide yang sangat orisinil dan brilliant.
Terima kasih Letkol Bambang Sugeng.

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s