Wajah Feminim Tuhan


Setelah sekian lama blog saya dipenuhi tentang pemikiran saya tentang teknologi, sekarang saya akan bercerita tentang suatu hal yang filosofis. Bahkan mungkin sedikit kontroversial, yaitu tentang Wajah Feminim Tuhan.

Pemikiran ini dimulai ketika saya menyaksikan salah satu episode National Geographic yang bercerita tentang penemuan Cakram Phaistos. Suatu ketika di tahun 1900an, seorang arkeolog Italia bernama Luigi Prenier sedang melakukan ekskavasi di sebuah tempat yang waktu itu diduga sebagai Istana Phaistos di kaki Gunung Ida, Pulau Kreta. Di salah satu sudut situs tersebut, arkeolog ini menemukan sebuah benda berbentuk piringan yang memiliki pola yang cukup rumit di kedua sisinya dan terlihat seperti dibuat dengan metoda cap. Tetapi yang paling mencengangkan adalah benda yang disebut dengan Cakram Phaistos tersebut telah berusia 3500 tahun. Hal ini sangat mencengangkan karena metoda penulisan dengan cap belum pernah ada yang setua itu.

Phaistos Disc

Keheranan para peniliti belum juga selesai, mereka kemudian bertanya-tanya fungsi dari benda tersebut. Pola-pola yang diatur sesuai dengan alur cakram tersebut menunjukan adanya perulangan terhadap simbol tertentu, yaitu yang berbentuk perisai dengan 8 lingkaran dan kepala manusia dengan rambut punk. Simbol tersebut kemudian menjadi perhatian para peniliti, apapun maksud dari Cakram Phaistos ini pasti berkaitan dengan kedua simbol tersebut. Salah satu usaha untuk menterjemahkan maksud dari simbol-simbol tersebut adalah dengan menghubungkannya dengan sebuh tulisan lain dari bahasa Luwean menunjukan bahwa dua simbol tersebut kemungkinan memiliki bunyi A – Qwe.

Pendukung teori A- Qwe kemudian mencari padanan makna dari A-Qwe, hampir semua yang mempercayai teori ini langsung tertuju pada kata Akko / Aka yang merupakan sebutan untuk Dewi Ibu yang disembah secara luas di kawasan mediterania sebelum era Hellenic. Orang di daratan italia menyebutnya Acca Larentia, di daerah Libya disebut dengan Ala, beberapa pulau di laut Aegean menyebutnya dengan Aka atau Akore, semakin ke Utara  disebut dengan Ukko. Bahkan, nama ini sampai di Finlandia dan bertahan melewati masa Hellenic. Bangsa Nordic juga memiliki Dewi Ibu yang nyaris mirip namanya yaitu Edda, sedangkan di Rusia Dewi Ibu dikenal sebagai Ava. Semua sebutan tersebut tertuju pada satu makna yaitu personifikasi Dewi Ibu.

Patung Acca Larentia

Hal tersebut akhirnya mengingatkan saya pada novel “By The River Piedra I Sat Down and Wept” karya Paulo Coelho. Disana diceritakan tentang seorang calon pendeta yang meyakini bahwa Wajah Feminim Tuhan harus diakui, karena dia beragama Katholik dia meyakini pentingnya peran Bunda Maria yang Dikandung Tanpa Noda. Dia juga bercerita tentang bagaimana pentingnya peran perempuan sejak jaman prasejarah. Dia meyakini segala bentuk penemuan yang penting bagi manusia (misal cara memasak, membuat peralatan rumah tangga, dsb). Hal ini dikarenakan kaum laki-laki pada jaman kehidupan gua lebih sering berburu dan mencari bahan makanan. Sedangkan kaum perempuan tinggal di gua. Melalui kaum perempuan jugalah nilai-nilai diturunkan ke anak-anak. Sehingga sangat wajar ketika manusia pertama kali menggambarkan “Tuhan” dalam bentuk wanita.

Venus of Laussel

Jika kita melihat karya patung maupun ukiran pra-sejarah, terlihat bahwa hampir semua karya berukuran besar memiliki fitur tubuh wanita. Meskipun begitu masih sulit dibuktikan apakah patung tersebut mewujudkan sesembahan atau tidak. Karya manusia tertua yang menunjukan adanya higher beings terdapat di Prancis yang berupa ukiran di sebuah batu berukuran 50cm yang berbentuk seorang wanita yang membawa tanduk dengan 13 ruas. Patung ini berusia sekitar 20.000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Ukiran ini dikenal dengan nama Venus of Laussel. Patung lain yang menunjukan adanya higher being berwujud wanita dapat dilihat dalam patung Venus of Willendorf yang ditemukan di Austria. Figur ini berusia sekitar 20.000 tahun yang lalu, hal yang unik dari figur ini adalah bentuk kakinya yang kecil sehingga tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Dengan ukuran kaki yang kecil, para peniliti meyakini bahwa patung ini dulunya digunakan untuk sebuah ritual. Selain itu di kedua objek tersebut terdapat sisa cairan berwarna merah yang diyakini sebagai bukti bahwa benda tersebut digunakan sebagai ritual.

Era Earth Mother, dimana sekitar 20.000 tahun yang lalu manusia mulai melakukan pemujaan terhadap higher being yang hampir semuanya berwujud wanita. Puncak era Earth-Mother adalah pada awal era neo-lithic sekitar 7500 BC hingga awal kemunculan kerajaan Mesir kuno di tahun 3000BC. Setalah itu, perlahan-lahan konsep Tuhan yang patriarkal mulai muncul meski tidak pernah benar-benar menggeser wajah feminim Tuhan.

Venus of Willendorf

Wajah “Tuhan” yang feminim menunjukan bagaimana manusia waktu itu mengharapkan kelembutan dikala kehidupan mereka yang waktu itu masih sangat keras dengan alam. Dewi Ibu seringkali dikaitkan dengan kesuburan bumi, kelahiran seorang manusia dan juga perlindungan terhadap cuaca.

Hari ini, meski “Tuhan” berdasarkan agama-agama semit tidak memiliki jenis kelamin, tetapi para umatnya lebih sering menggambarkannya dengan cara maskulin seperti memiliki kerajaan dan bawahan yang tunduk kepadanNya, menghukum mahkluk dengan cara-cara yang sangat kejam, serta sangat dominan dalam mengatur kehidupan mahkluknya. Kondisi ini lebih disebabkan oleh kondisi masyarakat yang memang patriarkal dan lebih siap menerima figur Kebapakan daripada Keibuan Tuhan.Padahal dalam kitab suci baik itu Injil maupun Qur’an sifat feminim Tuhan sebenarnya cukup banyak tetapi kurang terinternalisasi dalam kehidupan beragama masyarakat saat ini.Sebagai contoh, bagi umat Muslim pasti tentunya hafal al-Fathihah. Di dalam surat itu jelas disebutkan secara berdampingan ar-rahman dan ar-rahim. Semua orang tahu bahwa makna dari kedua Asma’ul Husna tersebut bermakna Maha Pengasih dan Penyayang, tetapi di dalam bahasa Arab kata tersebut bersifat feminim dan secara etimologi keduanya berkaitan dengan kata rahim as in womb dimana manusia selama 9 bulan menikmati kasih dan sayang tanpa henti.

Inti dari tulisan ini adalah ajakan untuk mengingat kembali sisi feminim “Tuhan” anda, biarkan dia juga menjadi nafas dalam hidup anda dan ijinkan mukjizat terjadi dengan menjadikan diri anda tangan Tuhan yang ar-Rahman dan ar-Rahim. Sebagai penutup dari tulisan ini saya mengutip dua buah hadis qudsi yang menurut saya perlu kita resapi:

Dari Abu Hurairahra.dariNabi saw., beliaubersabda : “Ketika Allah menciptakan makhluk, Allah menulis di dalam kitabNya, Dia menulis atas diriNya, Dia meletakkan di sisiNya pada Arasy : “Sesungguhnya rahmatKu mengalahkan kemurkaanKu”. (Haditsditakhrijoleh Bukhari).

Dari Abu Hurairahra. dariRasulullah saw, beliau bersabda : “Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besa rberfirman : “Aku menurut dugaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya ketika ia ingat kepadaKu. Demi Allah, sungguh Allah lebih suka kepada taubat hambaNya daripada salah seorang di antaramu yang menemukanb arangnya yang hilang di padang. Barangsiapa vang mendekatkan dirikepadaKu sejengkal maka Aku mendekatkan diri kepadany asehasta.Dan barangsiapa yang mendekatkan diri kepadaKu sehasta, maka Aku mendekatkan diri kepadanya satu depa.Apabila ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari kecil. (Haditsditakhrijoleh Muslim).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s