I Don’t Deserve It


bocah lemu rupane wagu

Hmm.. sekali-kali nulis blog galau ah, daripada bertingkah galau, stress, trus make narkoba dan ML sembarangan. Mending nulis disini, toh ini blog saya, anda ga boleh marah atau protes dengan eksistensi kegalauan saya. Kalau anda jadi ikutan galau ya silahkan nulis blog atau beli narkoba di apotik terdekat.

Ya, judulnya I Don’t Deserve It. Entah grammarnya bener apa enggak, toh emang saya ga pinter-pinter amat boso inggeris. Itulah inti dari kegalauan saya, saya merasa hidup saya terlalu indah , mendapatkan terlalu baik yang mungkin tidak sepantasnya saya dapatkan. Awalnya, saya merasa tidak pantas kuliah di jurusan HI UGM. Bahasa inggris saya ga bagus, saya juga ga peduli-peduli amat dengan apa yang ada di luar sana. Niat saya awalnya adalah masuk arkeologi, mengurusi masa lampau, meneliti objek yang tidak mungkin protes saat di teliti. Tetapi akhirnya saya masuk HI karena HI saya tulis sebagai pilihan pertama. Ibu sayalah yang menentang saya memasukan arkeologi sebagai pilihan pertama, saya mencoba mengakalinya dgn memasukan HI. Asumsinya, karena HI memiliki passing grade sangat tinggi, pasti saya tidak akan lolos dan langsung masuk arkeologi. Ternyata saya masuk jurusan itu, sesuatu yang bahkan membuat orang tuaku sangat terkejut. Bapak saya bahkan bilang, jangan-jangan komputernya error gara-gara gempa. Tentunya saya tidak tersinggung karena saya sendiri juga berfikir seperti itu.

Akhirnya datang juga hari itu, saya yang waktu itu sangat islami dan ndeso masuk HI dan bertemu dengan teman-teman (waktu itu saya menganggapnya masih orang-orang) yang sangat mengagumkan. Ada yang ikut AFS, sekolah di amerika atau eropa selama setahun, waktu itu saya bahkan ga tau kalo program itu ada. Ada juga yang memiliki segudang prestasi menulis. Selain itu kebanyakan mereka memiliki kemampuan bahasa inggris yang sangat bagus, sedangkan saya berbahasa indonesia saja plegak-pleguk kalo istilah jawanya. Hal lain lagi adalah mereka rata-rata lebih kaya daripada saya, punya ini itu, atau orangtuanya pejabat mana, sedangkan saya hanya diberi uang saku perbulan 100rb sudah alhamdulillah. Hal lain lagi adalah impian, teman-teman saya punya impian yang luar biasa, diplomat, bekerja di NGO, MNC, atau apapun di luar negeri selain jadi TKI. Saya, hingga saat ini, impian yang benar-benar berasal dari saya  hanyalah menjadi bapak dari dua orang anak yang tinggal di sebuah rumah kecil di perkampungan kelas menengah ke bawah dan bekerja sebagai penjual siomay dan memiliki istri yang bekerja sampingan dengan berjualan rujak dan popice di depan rumah.

Saya sama sekali tidak minder, saya sangat percaya diri. Hanya saja saya merasa mungkin ada orang yang lebih pantas. Dan oleh karena saya sebagai orang yang awalnya tidak layak mendapatkan ini, maka saya yakin, pasti ada sebuah tugas besar yang menanti saya suatu saat nanti. Dan saya akan berposisi memperjuangkan hak orang-orang yang tidak begitu berprestasi, tidak punya banyak uang, dan tidak punya cita-cita besar.

5 thoughts on “I Don’t Deserve It

      • kiki says:

        mas wiet : “Sebel ning kantor? Tinggalkan saja!” kaga nyesel ya mas berarti… yeah, mari kita gantian…

        semangat pak timuuur…salut, sampean ki sangat membumi, ora dumeh, and nrimo ing pandum.. hehe😉
        dan sepertiya ada maksud implisit dari alinea terakhirmu..semacam curhat dan bentuk protes gitu..
        *saiasotosekalie😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s