Yudhistira dan Drupadi


Kesempatan kadang membutakan. Judi memberikan kepada semua orang kesempatan dan terbutakanlah banyak orang akibat judi.
Bahkan Yudhistira, tokoh wayang dari keluarga Pandhawa yang dikenal bijaksana dan lemah lembut ini terbutakan oleh kesempatan tersebut. Pada suatu hari, Raja Hastinapura yang berasal dari keluarga Kurawa mengundang Yudhistira dalam sebuah permainan dadu. Seluruh Pandawa memperingatkan Yudhistira bahwa semua itu hanyalah jebakan Sengkuni.
Tetapi Yudhistira tetap maju, dia tidak melihat Sengkuni atau siapun akan menjebak dia. Yang dia lihat hanya satu hal – Kesempatan. Dua buah dadu selalu memberi kesempatan yang sama bagi setiap orang, paling tidak itulah yang ada di pikiran Yudhistira.
Yudhistira, raja Indraprastha, anggota tertua dari para Pandawa, duduk di satu sisi meja. Empat saudaranya duduk mendampingi pada sisi meja yang sama. Kelimanya harap-harap cemas. Pada sisi yang lain, duduklah Sangkuni, paman para Kurawa, dengan didampingi Duryudhana dan Dursasana. Matanya berkilat-kilat liar, keji, licik. Dua buah dadu telah tersedia di tengah-tengah meja.
Taruhan telah ditetapkan. Mulanya hanya kecil saja, sekedar perhiasan dan sejumlah uang. Dadu-dadu dilemparkan. Sangkuni, sang penjudi handal, menang. Yudhistira, sang raja jujur yang tak berbakat curang, kalah.
Sehingga ketika pertama kali diputar Yudhistira kalah, dia tetap melanjutkan permainan. Masih ada kesempatan! Mungkin itulah yang ada di dalam pikiran Yudhistira. Dan diapun tetap melanjutkan permainan. Permainan dilanjutkan, taruhan diperbanyak. Tapi takdir telah ditentukan hari itu. Sangkuni selalu menang, Yudhistira selalu kalah.
Atas nama kesempatan, Yudhistira telah kehilangan banyak hal, harta, benda, istana, dan kerajaan. Yudhistira bahkan mempertaruhkan adik-adiknya dan juga dia sendiri. Hingga dia mempertaruhkan harta terakhirnya, Drupadi, istri para Pandawa. Wanita tercantik dalam jagad Kurusetra yang dilahirkan dari api suci. Yudhistirapun tetap kalah, untuk yang terakhir kalinya.
Kekalahan Yudhistira disambut gembira oleh Dursasana. Dalam sekejap dia berlari meraih Drupadi dan menyeret rambut Drupadi yang elok bagaikan air terjun nirwana. Drupadi yang berdiri di tengah meja judi dipermalukan habis-habisan oleh Duryudhana dan Dursasana. Drupadi nyaris ditelanjang, akibat Yudhistira dan kesempatannya.
Neo-liberalisme bukanlah judi, tetapi memiliki satu kesamaan. Mereka memberi kesempatan yang terlihat sama bagi semua orang untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sudah merupakan sifat dasar manusia untuk menginginkan banyak hal. Karena itulah semua yang memberi kesempatan besar sangat digemari manusia.
Di dalam neo-liberalisme, para pemimpin negeri ini rela mempertaruhkan segalanya atas nama kesempatan. Bagaikan Yudhistira yang terbius angin surga kesempatan, pemerintah menyerahkan sumber daya alam negeri, kedaulatan, bahkan warga negaranya sendiri untuk diatur mekanisme internasional.
Bagaikan Drupadi, warga negara republik ini hanya bisa terdiam sambil menangis ketika mekanisme kapitalisme menyeret dan mempermainkan kita. Entah untuk dijadikan pekerja murah di luar negeri ataupun untuk diperas di negeri sendiri. Bagaikan Drupadi, warga negara republik ini kebingungan ketika pemerintah tidak banyak bertindak untuk menyelamatkan kita. Yudhistira kita telah menyerahkan dirinya.
Tetapi kisah Drupadi diatas belum selesai – menurut salah satu versi. Drupadi yang hendak ditelanjangi oleh Dursasana memohon bantuan kepada Dewa Krisna. Akhirnya Krisna menjawab doa Drupadi dengan memperpanjang busana yang dikenakan Drupadi sehingga sebanyak apapun Dursasana merenggut busananya, Drupadi tetap berbusana tebal. Hingga akhirnya Dursasana ambruk kecapekan.
Momentum ini digunakan Drupadi untuk menyelamatkan dirinya dan suami-suaminya. Drupadi mengajukan pembelaan yang sebenarnya juga merupakan teguran bagi para Pandhawa yang hanya bisa diam saja. Pembelaan ini diterima oleh pemimpin Kurawa, Destarata. Hasil judi dadu dinyatakan tidak sah dan Pandhawa serta Drupadi dibebaskan dari segala kewajiban hasil judi dadu.
Rakyat , sebagai Drupadi-Drupadi negara ini pada dasarnya adalah kekuatan yang mampu menghentikan atau memulai segala hal. Perubahan yang tentunya untuk kehidupan yang lebih baik tidak dapat hanya diserahkan begitu saja kepada para pemimpin. Dimanapun rakyat dijadikan korban, mereka harus bangkit dan melawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s