Hikikomori


Terhitung sejak tanggal 22 Desember 2008, saya berada di rumah sendirian soalnya keluarga besar saya pada merayakan Natal di Jakarta. teermasuk Ibu dan adik saya.. nah karena sendirian itu dan kebanyakan anak-anak HI pada pulang kampung atau sibuk dengan tugas maka seharian penuh saya sering dirumah saja, ini juga karena memang saya disuruh jaga rumah dan lain sebagainya yang mengharuskan saya berada di rumah untuk beberapa waktu.

Di rumah Jogja, sarana hiburan yang paling sering saya gunakan adalah komputer yang kebetulan ada internetnya. Seharian saya berada di depan komputer, internetan atau kalau koneksi IM2 lagi nggak bagus (sangat sering terjadi) saya main game, apapun itu. Yang saya sadari kemudian adalah, saya merasa nyaman-nyaman saja dengan kondisi ini, dan yang saya takutkan adalah terjadinya fenomena Hikikomori atau yang dalam bahasa inggris artinya withdrawal.

Dalam wikipedia hikikomori diartikan

Although there are versions where the hikikomori may venture outdoors,the Japanese Ministry of Health, Labour and Welfare defines hikikomori as individuals who refuse to leave their parents’ house, and isolate themselves from society in their homes for a period exceeding six months. While the severity of the phenomenon varies depending on the individual, some youths remain in isolation for years, or in rare cases, decades.

Tentu bukan hal seperti itu yang saya harapkan, dan sepertinya di Indonesia jarang sekali terjadi. Tetapi akhir-akhir ini banyak sekali orang yang membuat kehidupan barunya sendiri di dunia maya, saya belum pernah menemukan penelitiannya tetapi mungkin perlu dibuktikan apakah perkembangan koneksi internet berbanding terbalik dengan tingkat sosialisasi nyata antara masyarakat. Karena di dalam internet orang dapat membentuk identitas baru mereka ketika mereka merasa tidak begitu suka dengan identitas asli mereka di dunia nyata. Hal ini bisa dilihat dengan adanya orang yang memakai foto orang lain, menceritakan background atau profil fiktif dan lain sebagainya.

Semua orang pasti punya waktu senggang diantara kesibukan hidupnya, adanya internet bagi beberapa orang adalah media untuk meluangkan space hidupnya itu. Disinilah aspek yang cukup berbahaya karena seharusnya waktu luang digunakan untuk menjalin hubungan secara nyata, kenapa saya menekankan hubungan secara nyata? karena menurut saya, meskipun internet menyediakan jaringan sosial tetapi itu semua tidak nyata, dia bisa buatan dan kata-kata, aktifitas, dan perasaan yang dimunculkan belum tentu nyata. Hal ini bisa jadi akan membuat orang terlena karena dia dapat memilih identitas dirinya dan dengan siapa dia akan berinteraksi. Tentunya hal seperti ini jauh berbeda dengan dunia nyata dimana identitas tidak dapat begitu saja diubah dan kita dihadapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s