Anger Management


Do not teach your children never to be angry; teach them how to be angry.  ~Lyman Abbott

Anger atau yang jika boleh diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berarti kemarahan bisa dikatakan adalah suatu hal yang sangat alamiah dan hampir pasti dialami atau dirasakan setiap manusia (atau bahkan mungkin hewan). Tentunya pernyataan Lyman Abbott diatas sangatlah benar, tidak mungkin manusia tidak pernah marah selama hidupnya, permasalahan yang lebih penting adalah bagaimana kita marah. Marah bisa jadi merupakan bentuk negatif dari kecewa, jika kecewa kebanyakan disebabkan sesuatu yang kita harapkan terjadi ternyata tidak terjadi maka marah kebanyakan disebabkan sesuatu yang diharapkan tidak terjadi ternyata terjadi. Tetapi definisi seperti ini juga tidak sepenuhnya benar, dan batas antara kecewa dan marah juga bukan hanya berada di wilayah penyebabnya tetapi juga bentuk ekspresinya. Rasa marah biasanya ditujukan pada orang tertentu, sedangkan kecewa biasanya ditujukan pada diri sendiri atau situasi. Tentunya akan sangat sulit dan terlalu panjang jika kita mendefinisikan apa itu marah dan kecewa karena emosi manusia adalah suatu hal yang sangat kompleks dan setiap orang mengalami rasa yang berbeda.

Lalu bagaimana seharusnya kita marah? Jawaban yang paling sederhana adalah jangan sampai kemarahan kita membuat orang lain tidak mau lagi bekerjasama dengan kita. Hal ini didasari dari kenyataan yang kita rasakan sendiri bahwa dimarahi itu tidak enak dan yang lebih tidak enak lagi adalah bekerja dengan orang yang sangat mudah marah karena bisa jadi kita akan dibayangi rasa takut dan rasa tidak enak selama bekerja. Hal pertama yang harus diketahui untuk mengelola rasa marah adalah dengan memahami perasaan orang yang kita marahi, dan tentunya perasaan kita sendiri. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan euphimisme, sindiran, atau kata-kata yang halus untuk mengungkapkan rasa tidak suka. Selain lebih mengena, memperhalus kata-kata juga tidak membuat orang merasa tidak nyaman dekat dengan kita, paling tidak daripada ketika kita membentaknya.

Seharusnya setiap orang memiliki anger management dengan caranya sendiri yang tentunya sesuai dengan kemampuan dirinya. Setiap hari manusia akan menemukan permasalahan baru, orang menyebalkan baru, dan situasi baru yang bisa jadi menimbulkan kemarahan. Untuk itu kemampuan menata kemarahan haruslah berkembang dengan semakin dewasanya seseorang, karena kehidupan manusia pada dasarnya sesuai dengan Second Law of Thermodynamics dimana disorder always increases with time.

2 thoughts on “Anger Management

  1. rlesmana says:

    Marah aja kok susah…
    marah kan bisa jadi strategi dominan utk menunjukkan tingkat ekspresi tertentu. Misal, kamu diculik dan disekap ama Tiara biar kamu gak bisa maen sering2 tempat aq. Kamu kesel, kecewa, gondok dsb krn gak bisa maen ktempatq. Yah kamu marah ke Tiara. Toh kamu blm tentu benci k Tiara. Hubungan pertemananmu jg aman2 aja. Soalnya kamu punya hubungan (masa depan) yg baik ama dia.
    Tapi beda kl misal qt blm kenal secara intim n gak bakal punya hubungan masa depan ama pihak yg bikin qt marah. Misal, kamu diserempet ama seseorang yg bernama “kuak kuwik”, terus kamu jatuh, lecet2, motor rusak…apa kamu mesti diem aja? Yah kl strategi mu menghindar, aman. Kamu bs aja senyam senyum dan blg, “gak papa kok mas, cuma lecet biasa.” Tapi kl pengen marah y gak papa, toh bsk2 kamu ma dia gak bakal ketemu lg…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s