Liberalisme dalam Ekonomi Politik Internasional: Beberapa Asumsi Dasar


Jika kita mendengar istilah liberalisme, maka akan muncul di pikiran kita nama Adam Smith, David Ricardo, lalu muncul juga konsep pasar, full-employment dan lain sebagainya. Jika di depan kata liberalisme ditambahkan neo, maka akan muncul nama Friederich von Hayek, Milton Friedman, muncul juga WTO dan demonstrasi-demonstrasi yang menentangnya.

Disini tidak akan dibahas mengenai nama-nama serta konsep di atas, tetapi akan dibahas mengenai asumsi dan konsep dasar dari liberalisme. Hal ini cukup penting karena dengan asumsi-asumsi inilah para ilmuwan maupun aktivis politik dapat menganalisa, mendukung ataupun melawan liberalisme.

Prespektif liberalisme didasarkan pada asumsi bahwa manusia pada hakikatnya merupakan mahkluk yang tidak suka berkonflik, mau bekerja sama, dan rasional. Selanjutnya berdsarkan asumsi diatas, pemikir liberal berpendapat bahwa kepentingan-kepentingan manusia rasional (manusia yang mampu berfikir untuk bertahan hidup), akan menimbulkan interaksi yang harmonis dimana kebutuhan manusia akan terpenuhi secara efektif dan efisien dengan syarat dalam proses itu tidak ada pihak yang mengintervensi.

Pasar, dianggap sebagai mekanisme paling tepat dalam pemenuhan kebutuhan manusia, karena disana manusia bebas untuk berinteraksi (membeli dan menjual) atas inisiatif mereka sendiri. Mekanisme pasar akan membuat roda pemenuhan kebutuhan manusia akan terus berputar karena HARGA menunjukan nilai kebutuhan sebuah barang.

Setiap pemikir liberal memiliki asumsinya masing-masing dan terkadang berbeda antara satu sama lain. Liberalis klasik seperti Adam Smith dan David Ricardo memandang peran negara hanya untuk hal-hal yang tidak bisa dikerjakan sendiri oleh individu seperti pembentukan hukum, dan keamanan. Sedangkan J.S. Mill dan Keynes memandang peran negara diperlukan ketika pasar mengalami kegagalan dan tidak mampu menangani persoalan seperti inflasi dan pengangguran. Tokoh neo-klasik seperti Hayek dan Friedman memandang peran besar negara merupakan ancaman terhadap kebebasan individual, menurut mereka kontrol pemerintah selalu menimbulkan kepentingan dan inefisiensi karenanya intervensi negara dalam kehidupan masyarakat harus diminimalisir. Kebebasan politik berkaitan erat dengan kebebasan ekonomi, dan yang paling mampu menjamin keduanya adalah pasar bebas dan bukan tindakan negara.

One thought on “Liberalisme dalam Ekonomi Politik Internasional: Beberapa Asumsi Dasar

  1. karin says:

    bukan mau kasi komen di tulisannya sih,
    tapi cuma mau mengomentari blognya yang sekarang sepi pengunjung.
    mana pesonamu? mana? manaa? hilang!
    hehe ga jelas. maap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s