Friederich Von Hayek dan Komunitas Epistemik


adalah rangkuman dari salah satu paper saya yang mendapat nilai A. Berisi tentang peranan dan pengaruh Friedrich Von Hayek dalam perkembangan perekonomian neo-liberal sejak tahun 1970-an.
=====
Latar Belakang
Sejak 3 dasawarsa yang lalu, ekonomi dunia sangat diwarnai oleh kebijakan-kebijakan yang berbau neo-liberal dan juga dipengaruhi oleh rejim internasional seperti IMF, World Bank, dan WTO. Situasi yang demikian ini tentu berbeda dengan jaman post-world war (1945 – 1975) dimana kebijakan ekonomi lebih banyak berdasarkan pemikiran Keynesian. Perubahan pola ekonomi internasional ini sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran orang-orang seperti Friederich von Hayek, Milton Friedman, dan dalam beberapa aspek, John Rawl. Pemikiran-pemikiran di tahun 1970an telah berhasil menggantikan pemikiran Keynesian dalam perekonomian dunia. Dalam tulisan ini akan diuraikan tentang pemikiran Friederich von Hayek dan peneliti yang sehaluan denganya seperti Milton Friedman, George Stidler, dan James Buchanan sebagai komunitas epistemik dan bagaimana pemikiran itu mempengaruhi policy making rejim internasional dan apakah pengaruh itu dapat bertahan di masa datang
Pertanyaan penelitian dalam paper ini adalah “Apakah ide yang dibawa Hayek dan pemikir neo-liberal lainya dapat mempertahankan pengaruhnya dalam tatanan kerjasama ekonomi global?” Untuk menjawab pertanyaan “apakah dapat mempertahankan pengaruh” perlu dibuktikan telah terjadi aktivitas mempengaruhi sebelumnya maka dalam paper ini juga akan diuraikan tentang pemikiran Hayek dan bagaimana pemikiran itu mempengaruhi tatanan ekonomi global.

Sekilas Tentang F.A. Hayek
Friedrich August von Hayek lahir di Vienna, 8 Mei 1899 dan meninggal di Freiburg Jerman 23 Maret 1992 di usia 92 tahun. Buah pemikiran Hayek yang paling awal adalah Austrian Businnes Cycle Theory yang secara singkat menyatakan bahwa kegagalan atau malfungsi dari roda ekonomi bukan karena kesalahan struktural mekanisme yang terjadi di dalam pasar tetapi karena akibat dari ekspansi kredit bank sentral. Pemikiran ini sangat kontras sekali dengan pemikiran Keynesian yang menyatakan bahwa kesalahan terletak pada pasar yang tanpa rintangan.
Penekanan Hayek pada pasar dan harga sangatlah besar hingga majalah TIME edisi Senin, 27 Agustus 1984 menyebutnya sebagai Messiah of the Market . Hayek sangat menentang sosialisme dan juga welfare state, sikap Hayek ini sangat dipengaruhi oleh Ludwig von Mises, ekonom Austria. Menurut Hayek, pasar (sebagaimana society) adalah sebuah pilihan aktifitas yang saling menguntungkan antar individual. Gambaran singkatnya, kita bisa makan daging bukan karena tukang daging baik hati pada kita, tetapi karena tukang daging memikirkan kebutuhanya sendiri. Menurut Hayek, masalah sosialisme adalah adanya common end yang diberlakukan pada semua orang, menjadikan tujuan semua orang sama, dan untuk mencapai hal itu, sosialisme menempatkan orang-orang secara hirarkis secara politik dan sosial . Sosialisme juga mendapat masalah ketika dalam resources terdapat dalam jumlah terbatas sedangkan permintaan akan resources tidak terbatas. Dalam sosialisme, menurut Hayek, pemerintah harus menemukan cara menggunakan sumber daya ini dengan efisien, permasalahanya sangatlah sulit, pemerintah harus menetapkan tujuan akhir dari penggunaan resources, setelah itu pemerintah harus mengetahui preferensi pengguna sumber daya itu atau bisa kita katakan rakyat, baru setelah itu bisa ditemukan cara terbaik dan terefisien untuk menggunakan sumber daya itu. Hal ini, menurut Hayek sangatlah tidak efisien dan tidak mungkin terjadi karena tidak mungkin pemerintah benar-benar mengetahui preferensi rakyatnya, yang terjadi adalah pemerintah kemudian menentukan preferensi rakyatnya. Permasalahan seperti ini, menurut Hayek dapat diselesaikan melalui mekanisme pasar dan harga bukan dengan internvensi pemerintah, dalam wawancara dengan Lawrence Malkin dari TIME, Hayek mengatakan, “Not even a computer can keep track of the daily information that is dispersed among hundreds and thousands of people about their real intentions to buy, sell and invest. They signal them through prices. They often won’t say what they intend and don’t even know them selves until the moment they find out the price is right .”
Tetapi pemikiran Hayek ini tenggelam di tahun 1940an karena dianggap tidak relevan dan tertutup oleh bayang-bayang pemikiran Keynesian yang mendominasi perekonomian dunia hingga tahun 1970an.

F.A. Hayek dan Komunitas Epistemik
Dalam pembuatan kebijakan, politisi atau pembuat kebijakan terkadang dihadapkan pada permasalahan yang tidak begitu dikuasainya. Untuk itu mereka meminta bantuan dari orang yang mereka anggap ahli dalam masalah itu. Para elit pengetahuan sering juga disebut sebagai komunitas epistemik.
F.A. Hayek termasuk bagian dari komunitas epistemik yang membentuk tatanan kerjasama ekonomi global sekarang ini bersama dengan Milton Friedmen. Gagasan Hayek memang sempat terpinggirkan ketika pemikiran Keynesian berjaya di era post-war. Tetapi di tahun 1948 Hayek mendirikan Mount Pelerin Society, sebuah kelompok diskusi intelektual liberal klasik. Anggotanya terdiri dari ekonom ternama seperti Milton Friedman, George Stigler, Ronald Coase, Gary Becker dan James Buchanan. Selain itu Hayek dan juga Friedman aktif dalam Institute of Economic Affairs (IEA) yang sangat mempengaruhi Thatcher di kemudian hari, jaringan pemikir neo-liberal terdapat di London School of Economics, Institut Universitaire de Hautes Etudes Internasionales serta dari Universitas Chicago, tempat Hayek dan Friedman mengajar. Dari kelompok inilah ide-ide Hayek terpelihara dan dikembangakan hingga akhirnya di tahun 1970an mulai mempengaruhi perekonomian dunia.
Peter Haas, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang bisa dikatakan sebagai ciri yang harus dimiliki kelompok epistemik yaitu:
1.    Keyakinan atas prinsip bersama (shared belief) dalam kelompok epistemik neo-liberal mereka meyakini bahwa intervensi negara tidaklah efisien bahkan tidak adil, dan pasar dapat menghasilkan efisiensi secara natural
2.    Keyakinan atas relasi sebab-akibat (causal belief) dalam kelompok epistemik neo-liberal, mereka melihat krisis yang terjadi sebagai akibat dari intervensi negara terlampau luas maka dengan mengurangi intervensi tersebut krisis dapat diatasi
3.    Konsep validitas bersama, para ekonom neo-liberal meyakini hal-hal yang dapat mengukur kemajuan ekonomi seperti persentase GDP, nilai ekspor – impor, surplus – defisit anggaran, rating kredit, Purchasing Power Parity, dan tidak begitu mempermasalahkan pemerataan ataupun inekualitas yang terjadi dalam masyarakat.
4.    Proyek kebijakan bersama, kelompok epistemik neo-liberal memiliki paket kebijakan yang mereka anggap efektif dalam mengatasi krisis yang mereka anggap sebagai akibat terlalu banyaknya intervensi negara. Dalam kenyataan paket kebijakan yang mereka rumuskan dapat dilihat dalam Structural Adjusment Programs (SAPs) IMF

Pengaruh Hayek Dalam Tatanan Ekonomi Global
Penerapan kebijakan ekonomi dalam tatanan kerjasama ekonomi global sangatlah dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi negara hegemon waktu itu, jika kita mengkaitkan dengan teori hegemoni Antonio Gramsci maka kita akan menemukan sebuah blok historis, sebuah kesatuan yang dibentuk oleh kekuatan kelas hegemon di bidang kekuatan sosial sipil dan bidang produksi, sebuah kelas yang ingin maju sebagai kekuatan hegemon harus menguasai kepemimpinan bidang produksi atau bisa juga disebut ekonomi , meskipun Gramsci menganalisa di level nasional, pemikiran Gramsci juga dapat diterapkan dalam level internasional. Di era post-war, Amerika Serikat sebagai pemenang perang yang tidak mengalami kerusakan di dalam negerinya, tampil sebagai sebuah kekuatan hegemon  dengan kekuatan finansial, politik, dan militernya. Sebagai kekuatan hegemon atau paling tidak berusaha menjadi hegemon AS berusaha untuk menguasai ekonomi dunia dengan mengekspor kebijakan ekonominya ke negara lain dan menjadi pemberi kredit bagi negara-negara Eropa dan negara bekas kolonial. Tetapi dalam kekuatan hegemon, masih menurut Gramsci, terdapat intelektual-intelektual. Kaum intelektual, menyediakan basis pengetahuan bagi aktivitas kekuatan hegemon atau bisa disebut sebagai intelektual organik, sekelompok orang yang dekat atau bisa jadi pelaksana kekuasaan itu sendiri , pemikiran Gramsci ini dalam beberapa hal sangat mirip dengan konsep komunitas epistemik. Orang-orang yang menjadi intelektual dalam sebuah negara bergantung pada kelas yang berkuasa serta kondisi atau bisa juga krisis yang dihadapi negara itu. Intelektual yang mempengaruhi AS dalam peranya sebagai sebuah negara hegemon akan juga mempengaruhi tatanan ekonomi global. Segala perubahan konfigurasi ekonomi di AS akan berpengaruh pada perubahan konfigurasi ekonomi global.
Kuatnya pengaruh Keynesian dalam ekonomi global pada era post-war disebabkan karena Keynesian menyediakan ideologi yang sepenuhnya cocok dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil pasca perang. Keynesian menyediakan komitmen full employment dan pengadaan kesejahteraan yang memenuhi harapan kelas pekerja, dan di lain pihak Keynesian menyediakan kebijakan ekspansionis yang memenuhi keinginan kaum kapitalis dalam meneruskan akumulasi modal. Kebijakan Keynesian dianggap sebagai “manajemen krisis” yang tidak saja mampu melenyapkan konflik antara kelas pekerja dan kapitalis tetapi yang paling penting adalah “mengatasi kontradiksi inherent dalam akumulasi modal”  . Pemikiran John Maynard Keynes sendiri adalah sebuah anti-thesis dari berbagai pemikiran sebelumnya yang sering disebut pemikiran orthodox atau liberal klasik yang meyakini laissez faire dan auto-adjusment dalam krisis. Pemikir yang mendapat kritik dari J.M. Keynes antara lain J.B. Say, David Ricardo, dan Pigou, J.M. Keynes dalam bukunya General Theory menganggap statement ekonomi mereka tidak sesuai dengan ekonomi modern , menurut Keynes, asumsi laissez faire tidak realistis dan tidak logis dalam masalah gaji, unemployment, dan lain sebagainya, Keynes juga menolak gagasan Marx dalam Das Kapital yang dianggapnya tidak memiliki landasan logika dan membingungkan.
Manajemen ekonomi Keynesian memang cukup berhasil dalam era pasca perang, tetapi manajemen ekonomi yang dianggap sebagai “manajemen krisis” ini pada akhirnya juga mengalami krisis. Dalam manajemen ekonomi Keynesian, kenaikan upah terjadi secara rutin bahkan pada akhirnya terlembagakan . Pada awalnya hal ini bukan masalah karena adanya ekspansi modal dan ekspor, tetapi hal ini menjadi masalah ketika ekspansi akumulasi modal mencapai batasnya karena keterbatasan pasar, hal ini diperburuk dengan kompetisi antarkapitalis yang berujung pada usaha pengurangan biaya produksi, hal ini sulit terjadi karena seperti yang telah dijelaskan di atas, kenaikan upah telah terlembagakan dalam manajemen ekonomi Keynesian. Pada akhirnya krisis ini berujung pada pemutusan hubungan kerja, sementara itu respon Keynesian menghadapi over akumulasi modal dengan meningkatkan intervensi pemerintah dalam meregulasi akumulasi domestik berujung pada kegagalan dan akhirnya bersifat inflasionaris. Hal ini terjadi di akhir 1970an.
Dalam krisis seperti ini dimana keseimbangan antar kelompok telah terganggu dan mengancam ketertiban sosial serta lebih jauh lagi mengancam eksistensi kekuatan hegemon maka diperlukan hal-hal baru untuk menyeimbangkan atau mengembalikan ketertiban sosial dan akhirnya mempertahankan kekuatan hegemon. Disini diperlukan perubahan seperti pembentukan atau perubahan lembaga negara, serta ideolog-ideologi baru .
Disinilah momen dimana komunitas epistemik – kaum intelektual – muncul. Menurut Peter Haas, ada tiga syarat kaum intelektual dapat memberi pengaruh pada pembentukan suatu rejim, pertama, (1)para pembuat kebijaksanaan dihadapkan pada suatu ketidakpastian, kedua, (2)adanya advis kebijakan yang menyeluruh, lengkap, dan berpengaruh, ketiga, (3)anggota komunitas epistemik harus mempunyai akses ke kekuasaan.
Kondisi diatas sangatlah sesuai dengan kondisi akhir 1970an, (1)krisis dan ketidak-percayaan terhadap manajemen ekonomi Keynesian khususnya di Amerika Serikat dan Inggris, (2) F.A. Hayek dan Milton Friedman mempunyai advis langkah-langkah dalam mengatasi krisis, meski sebenarnya sudah diberikan pada tahun 1940an tetapi baru menemukan momen di akhir 1970an. (3) Pengaruh Hayek terhadap Thatcher sangatlah besar, beberapa kali Hayek diundang di Buckingham Palace, dan di tahun 1982 ketika Reagan berkunjung ke Inggris, Thatcher memperkenalkan Reagan dengan Hayek.
Sebagai sebuah negara hegemon, perubahan yang terjadi di Amerika Serikat tentu akan mempengaruhi tatanan global. Dengan bergesernya haluan ekonomi AS pada era Reagan dari Keynesian menjadi neo-liberal  a la von Hayek menyebabkan perubahan rejim internasional yang dipengaruhi oleh AS yaitu World Bank, IMF, dan di kemudian hari WTO.
Perubahan terjadi dalam institusi Bretton Woods (World Bank dan IMF), sebelumnya dua institusi internasional itu menjalankan ekonomi Keynesian dengan menetapkan fixed exchange rate dollar ke emas pada $35 per ounce, beban ini ditanggung oleh AS. Dengan berubahnya manajemen ekonomi AS dari Keynes-centric ke von Hayek dan Milton Friedman-centric maka AS tidak lagi menopang fixed exchange rate dan mengembalikanya ke pasar, menandai hilangnya intervensi pemerintah AS dalam standar emas dunia .
Selain itu, melalui IMF dan World Bank, pelaksanaan neo-liberalisme a la  von Hayek terdapat dalam Structural Adjusment Programs (SAPs) yang berisi (i) liberalisasi impor dan pelaksanaan aliran uang bebas, (ii) devaluasi, (iii) kebijakan moneter dan fiskal dalam bentuk: pengurangan subsidi, peningkatan suku bunga, serta pembatasan kredit dan lain sebagainya. Selain SAPs, terdapat paket program deregulasi yang berisi pengurangan intervensi pemerintah dalam pasar, privatisasi, dan liberalisasi ekonomi dengan menghapuskan segala bentuk proteksi.
Serangkaian kebijakan diatas adalah paket kebijakan yang diusulkan Hayek hampir setengah abad yang lalu, yang kemudian diteruskan oleh Milton Friedman dan diimplementasikan oleh Margaret Thatcher dan Ronald Reagan.

Tantangan Kebijakan Ekonomi von Hayek
Sebagaimana yang telah dialami manajemen ekonomi David Ricardo, J.S. Mills, dan Keynes. Manajemen ekonomi neo-liberal a la von Hayek akan mengalami masa krisis. Krisis yang mungkin akan dihadapi antara lain:
1.    Ketidakpercayaan negara-negara dunia ketiga terhadap neo-liberalisme, hal ini disebabkan neo-liberalisme dianggap gagal bahkan dianggap sebagai penyebab krisis dan kesenjangan sosial di negara dunia ketiga.
2.    Regionalisme, dalam kadar tertentu dapat menjadi penghalang neo-liberalisme. Meskipun ekonomi dalam region bisa jadi sangat liberal tetapi tatanan ekonomi dengan negara di luar region bisa sangat tertutup.
3.    Adanya pemikir ekonomi lain yang memberi alternatif untuk menghadapi krisis. Pemikir itu bisa berasal dari mazhab Keynesian, Marxist, atau Merkantilis.
Tetapi tantangan-tantangan di atas belum begitu berarti bagi kelangsungan pemikiran von Hayek dalam tatanan ekonomi global. Meskipun dikecam berbagai kalangan terutama kelas pekerja, pemerintahan negara dunia ketiga tetap memakai resep neo-liberal dengan mengurangi intervensi dan meliberalisasi ekonomi. Alasanya simpel, negara tidak mempunyai cukup uang dan resources untuk melakukan intervensi dan proteksi. Sebuah kawasan, bagaimanapun juga, tidak dapat untuk berdiri sendiri, meskipun memiliki pasar yang sangat besar, negara-negara dalam suatu kawasan biasanya memiliki produk dan kemampuan yang sama. Asia Timur dan Tenggara memiliki tenaga kerja yang murah dan sumber daya alam tetapi tidak memiliki modal, Timur Tengah memiliki minyak tetapi tidak memiliki industri dan tenaga kerja, Eropa memiliki pasar yang luas dan modal tetapi tidak memiliki tenaga kerja dan minyak. Regionalisme masih belum dapat menyelesaikan masalah interdepensi ini sedangkan neo-liberalisme dapat dengan mudah menyelesaikanya dengan pasar. Selain itu ide-ide ekonomi yang ada sekarang lebih pada romantisme masa lalu dan lebih kepada reaksi atas neo-liberal.

Kesimpulan
Friederick von Hayek membawa ide-ide neo-liberal yang menentang intervensi pemerintah dalam ekonomi dan meyakini pasar dapat memberikan efisiensi dan meskipun ada krisis, terdapat auto-adjusment untuk menstabilkan kembali kondisi. F.A. Hayek bersama dengan Milton Friedman dan ekonom neo-liberal lainya mendapat pengaruh setelah pemikiran ekonomi Keynesian mengalami krisis di akhir 1979an dan pengaruh mereka dalam rejim internasional mereka dapatkan dengan mempengaruhi kebijakan pemerintahan AS sebagai kekuatan hegemon. Pengaruh kelompok epistemik neo-liberal dalam rejim internasional seperti IMF dan World Bank dapat dilihat dari perubahan kebijakan institusi Bretton Woods tersebut, dimana sebelumnya mereka menetapkan fixed exchange rate yang kemudian diganti dengan mekanisme pasar. Selain itu banyak program IMF, World Bank, dan WTO yang sejalan dengan pemikiran Hayek.
Meskipun menghadapi banyak tantangan, pemikiran Hayek diprediksi masih dapat bertahan karena belum ada ide-ide dari ekonom lain yang dapat mengalahkan pemikiran Hayek dalam aspek pengaruh serta ketersediaan advis kebijakan secara menyeluruh. Dalam negara-negara dunia ketiga yang mengalami krisis, neo-liberalisme tidak juga ditinggalkan bahkan krisis dianggap terjadi karena dosis neo-liberalismenya kurang. Hal ini terjadi dalam pemerintahan Indonesia dan Thailand. Jadi, dapat dikatakan pengaruh para pemikir neo-liberal masih akan tetap eksis dalam beberapa waktu ke depan meskipun mungkin suatu saat akan mengalami krisis dan pada saat yang sama terdapat pemikiran baru yang muncul dari kelompok epistemik baru menggantikan kelompok neo-liberal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s