Beyond the Universe I: Infinity and Zero


 

Setelah selama ini sering menuliskan tentang permasalahan cinta, blog saya sekarang mengambil tema baru yaitu tentang alam semesta, bagaimana bisa muncul berakhir dan berbagai dimensi lainya dalam alam semesta. Termasuk juga permasalahan dimensi waktu, angka, kenyataan, dan non-kenyataan.

Serial blog tentang alam semesta ini akan dimulai dengan permasalahan yang ada di dunia nyata namun cukup sering tidak kita perhatikan (karena mungkin sebenarnya tidak perlu diperhatikan) permasalhan itu adalah Infinity and Zero, ketidak-terbatasan dengan ketiadaan. Dalam matematika, zero atau 0 adalah hasil dari penjumlahan semua angka positif dan semua angka negatif. Tetapi dalam dunia fisik kita tidak menemukan kondisi negatif, kita dapat menemukan pohon dengan ratusan daun, tetapi tidak pernah ada yang memiliki daun dalam jumlah negatif dan kita tidak memiliki bayangan kondisi negatif dalam dunia fisik. Definisi zero dalam dunia nyata fisik tentu berbeda dalam dunia matematis yang imajiner itu. Dalam permasalahan temperatur, kita mengenal absolute zero -273,15 Celcius atau O Kelvin, absolut zero bisa berarti kondisi dimana tidak ada lagi perubahan yang bisa lebih rendah daripada kondisi itu, zero dalam dunia fisik adalah limit bagi segalanya.

Jika ada zero, maka terdapat juga infinity, ketidakterbatasan. Suatu kondisi yang sulit dibayangkan tapi benar-benar ada. Phi atau 22/7 adalah contoh paling terkenal, 22/7 adalah sesuatu yang nyata dan dapat dibayangkan sebagai membagi 22 potong roti kepada 7 orang sama rata. Tetapi ketika 22/7 dituliskan dalam angka desimal menghasilkan sebuah angka dengan jumlah bilangan yang tak terbatas. Dengan menggunakan kalkuilator komputer, saya menemukan angka 3,1428571428571428571428571428571 tapi semua orang tahu deretan angka itu tidak berakhir di situ. Temperatur yang memiliki absolut zero ternyata tidak memiliki batas atas, paling tidak kita belum menemukan kondisi dimana sebuah benda tidak dapat lebih panas lagi. Semua benda di alam nyata ini memiliki kondisi infinite, paling tidak dimungkinkan memililiki. Pertanyaanya apakah ada batas bagi “infinity”? Entahlah, seharusnya ada karena tanpa ada batas semua hukum fisika (gravitasi, termodinamika, dsb) akan mengalami kekacuan dan disorder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s