Tentang “Mencintaimu Secara Sederhana”


Simple Love

Anda tentu pernah membaca atau mendengar puisi dari Sapardi Djoko Damono yang judulnya Mencintaimu Secara Sederhana, yang kalau tak salah puisinya:

Biarkan aku mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

(maaph kalo salah)

Seorang teman saya (Riyanto Lesmana a.k.a. Dedex) malam-malam sms saya menanyakan apakah saya akan membuat blog tentang puisi ini. Dari situlah saya terinspirasi untuk menjabarkan secara panjang lebar meskipun mungkin akan berakhir tidak jelas tentang puisi ini.
Dua pertanyaan terbesar yang muncul dari puisi ini adalah:
1. Kenapa “aku” ingin mencintai “kamu” secara sederhana?
2. Bagaimanakah cinta yang sederhana itu?

Analogi yang dipakai Bapak Sapardi Djoko Damono (SDD), adalah “kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu” dan “isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” Dua analogi ini mengalami kesamaan yaitu objek pertama (awan dan api) dinegasikan oleh objek kedua (api dan hujan). Lalu bagaimana analisa terhadap analogi ini dapat menjelaskan dua pertanyaan diatas?
Jika objek pertama mewakili tokoh “aku” dalam puisi diatas, dan objek kedua mewakili tokoh “kamu” maka bisa jadi cinta sederhana yang dimasud SDD adalah cinta yang tak terucap karena sesuatu hal yang dilakukan atau terjadi pada tokoh “kamu”.
Cinta yang tak terucap memang bisa dikatakan sebagai sebuah cinta yang sederhana, karena dalam cinta semacam ini sulit bahkan memang tak diharapkan adanya balasan. Lalu, dalam kondisi apa biasanya seseorang ingin mencintai secara sederhana?
Cinta tak terucap dapat terjadi dalam kondisi dimana seseorang yang kita cintai -dengan alasan apapun- tidak mungkin untuk mencintai kita.
Dalam pikiran orang yang ingin “mencintai secara sederhana”, cinta yang didiamkan dalam hati akan lebih awet daripada cinta yang diucapkan langsung karena ada kekhawatiran akan tertolaknya cinta.
Cinta tak terucap memiliki konskuensi penyesalan, yaitu ketika kita mengetahui bahwa orang yang kita cintai sebenarnya menunggu kata-kata dari kita eh maksud saya pecinta tak terucap, dan ketika kita mengetahui hal itu semuanya telah terlambat, orang yang kita cintai itu bisa jadi sudah tak lagi mencintai kita karena bosan menunggu atau juga dia sudah bersama orang lain.

Untuk itu pesan saya untuk diri saya sendiri dan juga anda “CINTAILAH DAN TUNJUKAN CINTA KAMU -AT ALL COST- PENYESALAN DATANG TERLAMBAT DAN TAK DAPAT MERUBAH APAPUN!”

14 thoughts on “Tentang “Mencintaimu Secara Sederhana”

  1. lebih adlamnya lagi, sebaiknya diulas juga beberapa sajak SDD agar setidaknya menemukan pola “kesederhanaaan cinta”nya. misalnya saja jika kita baca keseluruhan dari karya Chairil, kita temukan banyak nama perempuan, yang sesungguhnya menunjukkan kenyataan bahwa chairil tidak pernah dekat dengan perempuan yang banyak itu.

  2. AKU INGIN

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    ———-

    Jadi, judulnya salah. Bait-baitnya juga salah. Puisi Indonesia ternyata memang ditangkap dari bisik-bisik, ya? Tidak dibaca, sungguh-sungguh dibaca. Tak perlu belu buku “Hujan Bulan Juni (Grasindo). Begitu mudahnya menemukan sajak itu dengan bantuan Paman Google. He he he. Salam – Hasan Aspahani.

  3. ddpoet says:

    words are dangerous…

    they can express the most exalted happiness and the most faithful feeling,
    yet at the same time they could (and would) disconnect us from reality.

    don’t drown yourself in too many ‘What Ifs’ or ‘Should Have Beens’, they will make your heart suffer a great bitterness.
    i died of them, and we should learn a lesson from the dead🙂

  4. aufannuha ihsani says:

    haha, puisi pak sapardi yang satu ini memang tergolong puisi kamar yang renungannya dalam banget. meski perbandingannya sederhana (kayu kepada api, awan kepada hujan), tapi kalau dibacakan ke cewek pasti romantisnya setengah mati.

  5. ddpoet says:

    eh, nitip yah… can’t open my yahoomail/hotmail account…

    to whatever extent the lover’s feeling goes,
    when it loses values, it binds no flows,
    words drop dead-
    life falls white as bread-

    suffer!
    and do us suffer in every beginning–
    of contentious joy.

  6. wily says:

    simply love
    is onething that i feel for you,
    my longing love

    no words can describe
    but i know what it means
    at time i see myself in your eyes

  7. Hi Timur! Aku setuju dengan kata “tunjukkan Cintamu” tapi mungkin kata “tunjukkan” tidak selalu berarti mengutarakan secara eksplisit dan mengharapkan ‘dia’nya mengerti, tapi bisa juga mengutarakan secara implisit dan tidak peduli entah dia mengerti atau tidak,, just show…

    karena sayang, kalo Cinta cuma bergejolak di dalam dada dan tiada pernah dicurahkan…

    aku memahami kata ‘tunjukkan Cintamu’ itu sebagai aktivitas ‘menCinta’ …

    GekNana

  8. wuLan says:

    wuuiiihhh Tim,, lama aku tak baca blogmu…

    hmmm,, mau aku nyanyiin laguna??? ahahaha…

    seeeppp,, jangan sampe semua terlambat,,,

    jangan takut ditolak…

    ngomong sayang ga berarti nembak dia buat jadi pacar kita,, juz wanna he/ she know that we love him/her so much…
    n dia pasti akan mikir,, n ga akan menyia2kan cinta kita,, wlo ga bisa menjalani perasaan kita,, tapi ada kepuasan tersendiri,, dan masi da sebungkus asa, bahwa suatu ketika dia akan terketuk hati na oleh cinta yg kita tunjukkan secara mendalam… asal jgn keterlaluan aje,,, hohoho…

    mbohlah Tim,, cinta itu kadang menjadi penderitaan,, tapi kita [kita?? elo aja kaleee,, gue enggak,, hahaha] tetap ga mau lepas dari penderitaan itu, dan bahkan menyukainya…
    beuhhh!!

    show ur love…. n make the world smiLe,,, ehehehe,,,
    baca secret de,, bagus lhoh

  9. Meski sudah lama di-post, nggak masalah, kan, saya comment-in? Menurut saya–berdasarkan puisinya yang benar tentunya, cara mencintai dengan sederhana itu maksudnya adalah dengan sebuah kerelaan. Jika saya berikan sebuah persangkaan, maka saya dapatkan persepsi bahwa “kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api” serta “isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan” itu adalah satu kerelaan. Kayu mengizinkan api untuk menjadikannya abu dan awan mengizinkan hujan untuk menjadikannya tiada, misalnya demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s