Raja Midas Modern


Sewaktu SD atau SMP kita seakan merasa menjadi orang paling beruntung di dunia karena dilahirkan di sebuah negara yang diapit oleh dua samudra dan dua benua, serta memiliki wilayah darat dan laut yang luas atau yang bisa kita sebut negara kita memiliki lokasi strategis. Tetapi sekarang kita terhenyak sadar, ternyata kita memiliki potensi bencana yang tidak kalah “strategis”

Ketakutan seakan menjadi teman sehari-hari rakyat Indonesia hari ini. Ketakutan akan gempa, ketakutan akan kecelakaan baik di darat, laut, ataupun udara, serta ketakutan akan bencana lainya. Mungkin satu-satunya hal yang tidak terdapat kesenjangan di Indonesia hanyalah ketakutan. Orang kaya takut rumah mewahnya kebanjiran, orang tak berpunyapun tak mau kalah, takut ketika gubuknya tertiup angin puting beliung. Orang kota takut jika-jika ada pesawat yang ditumpangi keluarganya jatuh, orang desa takut jika rumahnya kena longsor.

Orang-orangpun berspekulasi, “Tahun yang 2007 masih membawa sial tahun 2006!”, “Azab dari Tuhan!”, “Kerusakan alam, ulah manusia yang tak bertanggung jawab!”, hingga “Presidenya pembawa sial!”. Mungkin masih banyak lagi spekulasi yang beberapa terlalu konyol. Hal-hal mistik tentu tidak tepat bila dibahas disini, tetapi kemunculan spekulasi yang berbau mistik menandakan kepenatan dan keheranan masyarakat terhadap musibah yang datang dengan intensitas yang belum pernah ada sebelumnya.

Tetapi yang pasti, alam tidak boleh disalahkan, meskipun itu murni bencana alam. Karena gempa, angin puting beliung, badai, dan bencana alam lainya memang sudah ada sejak bumi diciptakan, jauh sebelum manusia berbuat dosa untuk pertama kalinya. Apalagi musibah yang diakibatkan oleh ulah manusia baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan bisa dibilang alam lebih berhak menyebut kehadiran kita sebagai bencana manusia.

Meminjam kata-kata yang sering disebut Tukul Arwana, musibah yang datang secara beruntun ini adalah “kristalisasi keringat” manusia selama ini. Industrialisasi dan kapitalisasi di segala bidang menyebabkan segalanya dinilai dengan uang. Pohon ditebang menjadi uang, pasir ditambang menjadi uang, alat navigasi dikurangi bisa menghemat uang, memaksimalkan kerja pabrik meskipun bisa berarti memaksimalkan polusi bisa dapat memaksimalkan uang, hebatnya lagi birokrasi diakali bisa jadi uang. Di jaman kemenangan kapitalisme ini semua manusia seakan-akan menjadi Raja Midas dalam mitologi Yunani yang dapat merubah segala yang disentuhnya menjadi emas. Segala yang disentuh manusia dapat menjadi uang.

Tetapi sama dengan Raja Midas, manusia pun akhirnya menemukan bahwa terlalu banyak yang telah diubahnya menjadi uang, dan ketika ingin mengembalikan uang itu ke bentuk semula, sering kali telah terlambat. Hutan telah gundul, lahan serapan air berubah menjadi villa mewah, banjirpun tak terelakan.

Meskipun manusia telah berhasil mengembalikan uang itu ke bentuk semula, bencana baik itu yang benar-benar alami sampai yang 100% human error tetap bisa terjadi. Kesadaran dan kesiapan (awareness) manusia terhadap bencana adalah tembok pertahanan yang terakhir yang bisa dibangun manusia. Masyarakat Indonesia harus sadar bahwa kita berdiri di salah satu sisi Ring of Fire Pasifik, kita harus sadar bahwa laut kita yang biru dan indah itu sering mengganas. Lebih dari itu kita tidak bisa hanya sadar dan menerima musibah sebagai takdir begitu saja. Pendidikan penyelamatan diri dalam bencana alam harus diajarkan sejak dini, lebih pentin lagi regulasi yang tepat dan komprehensif dan implementasi yang tegas adalah kebutuhan paling mendesak terutama untuk menanggulangi musim musibah di bidang transportasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s