Dengan menyebut nama Uang yang maha kuasa


Uang… anda tentu sangat menginginkanya, dan anda tidak sendirian. Yang sendirian adalah orang yang tidak suka uang. Pernahkah anda sehari saja tidak berhubungan dengan uang, tentu tidak pernah. Uang juga satu hal yang tak mungkin anda lupakan, anda bisa lupa sholat, lupa sama orang yang anda kasihi (huh!!?), lupa dengan kuliah, tapi anda tentu paling sulit melupakan utang teman anda pada anda.

Beginilah hidup di jaman kemenangan kapitalisme. Uang yang pada awalnya untuk mempermudah manusia dalam bertransaksi, dengan kata lain dia (atau perlu saya tulis Dia mengingat kehebatanya saat ini) hanyalah sebuah alat, instrumen. Sekarang uang adalah pembentuk pribadi, kebudayaan, gaya hidup manusia.

Uang mereduksi nilai manusia dan hubungan sosial menjadi kalkulasi finansial. Anda berteman dengan dia untungnya apa(berapa)? Apa yang bisa dia berikan? Goodwill based friendship menjadi semakin sulit dicari, yang banyak ada hanyalah utility based friendship. ekonomi uang membangun pribadi yang matematis, dan mematematikakan segalanya. Hasilnya, yang punya uang dihormat, yang tak punya dilaknat.

Sedang cari uang. Saya baru sadar ternyata kalimat ini mungkin adalah kalimat yang diajarkan seorang ibu pada anak-anak jaman sekarang ketika mereka ditanya bapaknya lagi dimana. Apakah anda juga begitu? Salahkah? Tidak tentunya, tapi entahlah seakan-akan kehidupan manusia (terutamanya kelas pekerja) benar-benar berpindah dari rumah ke tempat kerja. Sebenarnya saya juga bingung ketika orang pergi ke kantor atau pabrik, apakah mereka itu pergi atau sedang pulang setelah beristirahat sebentar, inikah yang disebut Alienasi kehidupan sosial manusia akibat kapitalisme?.

Meski secara normatif, etis, dan moralistis kita tegas-tegas menolak korupsi, kolusi dan nepotisme, namun secara diam-diam berbagai skandal keuangan justru dipraktikkan meluas. Korupsi dicaci maki tapi juga digandrungi.

Inilah kehidupan anda dan saya saat ini, dulu dunia(manusia) yang menciptakan uang, sekarang roda dunia(manusia) tak berputartanpa uang. Inilah menariknya uang (dan kapitalisme) kita terlanjur terjerat dan tidak bisa berkutik melawanya. Anda bisa menghinanya tetapi pada akhirnya anda juga butuh uang….

Saya mengajak anda memasuki dunia idealis saya:

Bayangkan ketika manusia membakar semua kertas dan logam yang diberi angka dan disebut uang itu. Lalu mereka berusaha memenuhi kebutuhan ORANG LAIN, ketika ada orang kehausan ada yang memberikan minum, ketika butuh hiburan ada yang menyanyikan lagu untuknya, atau band-band serta penyanyi itu memberikan cuma-cuma kasetnya pada orang-orang, ketika butuh tumpangan orang-orang dengan rela membrikan tumpangan dan mereka semua tidak mengharapkan apapun karena yakin bahwa suatu saat mereka juga akan dibantu.

– Sebagian tulisan ini diinspirasi oleh tulisan rubrik humaniora kompas kalau tidak salah tanggal 30 Desember 2006 tentang uang

2 thoughts on “Dengan menyebut nama Uang yang maha kuasa

  1. vertigo madeleine says:

    saya membeli rokok bukan untuk mendukung kapitalisme
    tapi demi buruh yang bekerja di pabrik tersebut
    -Pram- (in my own edit)

  2. ibnu1edy says:

    ya, uang bagi liberalis serta kapitalis memang maha kuasa. saya baru sadar pernyataanmu. dan tuhan kaum liberalis ekonomi (liem sioe liong, sjamsoel noe rsalim) dan liberalis ideologi (goes dur, goenawan m, siti musdah mulia) memang uang. jangan lupa sama redaktur-redaktur media di Indonesia yang hampir semua liberalis. asal ada uang ataupun bosnya uang mereka bakal ngomong miring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s