Sosialisme Indonesia

7 November 2007

 Socialism

“Hari depan revolusi Indonesia bukanlah menuju ke kapitalisme, dan sama sekali bukan menuju ke feudalisme… Hari depan Revolusi Indonesia adalah masyarakat adil dan makmur atau… Sosialisme Indonesia” – Manifesto Politik RI

Apa itu Sosialisme Indonesia? Menurut E. Utrech S.H. adalah Sosialisme yang di-Indonesiakan atau Indonesia yang disosialiskan. Daripada bingung kita kembali ke definisi Sosialisme Indonesia menurut Manipol, “Sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi-kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan alam Indonesia, dengan rakyat Indonesia, dengan adat-istiadat, dengan psikologi, dan kebudayaan rakyat Indonesia.”

Definisi diatas diawali dengan “Sosialisme yang disesuaikan…” Disesuaikan, tetapi tetap sosialisme. Mari kita gunakan penggambaran Njoto tentang apa itu penyesuaian. Bayangkan seorang pelukis dari Bali menggambar gunung Everest, atau Grand Canyon, pasti terdapat gaya yang Bali, pengolahan ala Bali, dan prespektif ke Balian dalam lukisan tersebut. Tetapi tetap, yang dilukis adalah gunung Everest atau Grand Canyon bukan gunung Kelud apalagi Gunungkidul.

Sosialisme adalah susunan sosial atau sistem masyarakat yang berdasarkan atas pemilikan bersama faktor produksi. Ingat, kepemilikan bersama hanya atas faktor produksi, jadi bukan atas kasur, pakaian, rumah, sepatu, dll. Dalam sosialisme produksi dilakukan secara sosial dan hasilnya dinikmati secara sosial. Jadi tidak seperti kapitalisme yang produksinya dilakukan secara sosial (hitung saja berapa buruh yang ada di pabrik sepatu, rokok, konveksi, dll) tetapi hasilnya dinikmati segelintir orang saja, jadi tidak sinkron dan asosial.

Entry Filed under: Philosohpy, Sosial Politik. .

11 Comments Add your own

  • 1. Herman Guritno (Aktivis DPC GmnI Yogyakarta)  |  20 Maret 2008 at 7:07 pm

    Merdeka Indonesia!
    Salam Sejahtera..
    Ass Wr Wb..
    Melihat tulisan yang mengumandang, terasa jelas dan yakinlah saya pada suatu kesimpulan bahwa cita-cita tentang Sosialisme Indonesia sebenarnya memang mendarah daging sampai saat ini. Saya pun menyadari bahwa cita-cita tentang Sosialisme Indonesia memang sebenarnya hidup dan benar-benar mengakar di jiwanya Indonesia. Perkataan Tata-tentrem, Kerta Rahardja gemah Ripah Loh jinawi yang menjadi simbol dari Bangsa Indonesia pun menjadi bukti bahwa Sosialisme Indonesia memanglah tujuan daripada Bangsa Indonesia. Bukan Kapitalisme, juga bukan Feodalisme yakni Sosialisme indonesia, lebih tepatnya Sosialisme ala Indonesia seperti yang pernah disampaikan oleh Bung Karno dalam Manifesto Politik RI.
    Yang mengherankan tentu mengapa setiap kali kita mendengar kata tentang Sosialisme Indonesia, terbenak tafsiran yang mungkin saja berlainan maksud dengan pengertian Sosialisme ala Indonesia itu dan bahkan disengaja disalahtafsirkan oleh oknum-oknum yang memang gandrung akan kebencian dan perpecahan. Apa namanya kalau bukan seorang pemecah belah jikalau ia sengaja menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia itu tanpa melihat bahwa Sosialisme Indonesia dengan nurani terbuka, yang karena tujuan-tujuan tertentu menyalahtafsirkan Sosialisme Indonesia yang dulu digelorakan di mukanya Indonesia oleh Presiden Pertama RI, Ir Soekarno dan sebagian Tokoh-Tokoh Bangsa Indonesia di masa yang lampau.
    Sosialisme Indonesia seperti apa yang disebut di dalam artikel tersebut sering disebut juga Sosialisme Religius yang menurut E. Ultrech S.H. adalah Sosialisme yang di Indonesiakan atau Indonesia yang disosialiskan. Ya, Sosialisme ala Indonesia itu muncul di dalamnya jiwa seluruh rakyat Indonesia, tumbuh subur didalam kebudayaan, adat-istiadat Indonesia semenjak dahulu kala, meskipun Sosialisme itu tidak seratus persen diterapkan oleh perilaku bangsa Indonesia. Disebut sebagai Sosialisme Religius itu pun merupakan cerminan dari masyarakat Indonesia yang religius. Jadi salah besar bila Sosialisme Indonesia digambarkan sama dengan Sosialisme di negara-negara lain yakni Sosialisme yang menolak Pluralisme Demokratis. Justru sebaliknya, Sosialisme Indonesia adalah sangat menjunjung Pluralisme Demokratis itu, yakni menjunjung tinggi keberagaman yang ada di bumi Indonesia. Apa sebabnya Sosialisme itu sampai sekarang tidak bisa benar-benar diterapkan seratus persen di Indonesia, meskipun sudah tertanam dalam di sanubari orang per orang rakyat Indonesia?. Dahulu kala saat Indonesia belum dikungkung yang namanya sistem kolonialisme dan imperialisme, Indonesia terjebak di dalam sistem Feodalisme. Feodalisme itu lahir karena mental, mental yang terbangun karena adanya pola berfikir yang salah, pola berfikir yang minimnya pengetahuan, pola berfikir yang masih pada berorientasi pada ilusi-ilusi dan ketakutan akan sesuatu dan pola berfikir yang tidak berorientasi pada kesadaran akan persamaan derajat seluruh umat manusia di Indonesia dan di dunia.
    Feodalisme yang kemudian melahirkan sistem Kapitalisme karena adanya proses dialektika makin menambah rintangan menuju cita-cita Sosialisme Indonesia seratus persen, yakni Sosialisme Indonesia yang sejati yang tentu bertambah pula penderitaan rakyat Indonesia. Bertambah suburlah pula mental bangsa Indonesia yang berorientasi pada nilai-nilai di atas, mental yang menerima nasib dan kelemahannya itu, yang menerima adanya “antara atas dan bawah”,sehingga semakin terjebak oleh determinasi pola berfikir tadi. Cita-cita Sosialisme Indonesia pun akhirnya belumlah kita sampai padanya. Dapatlah digambarkan cita-cita Sosialisme Indonesia itu, Sosialisme yang menghendaki kemerdekaan, persaudaraan dan persamaan diseluruh umat manusia, Sosialisme yang sesuai dengan Pancasila, yang merupakan nilai-nilai luhur asli Bangsa Indonesia bukan gambarannya Sosialisme yang selama ini disalahtafsirkan.
    Mari lanjutkan dan sempurnakan Bangsa ini ke arah Sosialisme Indonesia itu. Sosialisme Indonesia itu anti perpecahan, maka hadang semua usaha-usaha yang kian membahayakan Persatuan Nasional. Indonesia adalah satu, yakni persatuan dari sabang sampai merauke.
    Bangkitkan Mental!
    Bangkitkan Persatuan!
    Bangkitkan Indonesia!
    Merdeka Indonesia!
    Wass..
    Salam Sejahtera..
    Herman Guritno (Kepala D.P.O DPC GmnI Yogyakarta)

    Balas
    • 2. reni andriani  |  28 September 2009 at 3:32 pm

      GmnI jAYA…!!!
      mARHAEN Menang..!!!

      Hiduplah bangsa dan negriku..!!!

      Balas
  • 3. AGUS FAISAL  |  10 September 2008 at 11:05 am

    Anti Imperialis !,Feodalism!, Kapitalis Birokrat!
    Hidup Kaum Tani !

    by Maoist !

    Balas
  • 4. Muhammad Nuzul  |  10 September 2008 at 11:06 am

    Kaum Progreisf Indonesia, bangkit hancurkan Feodalisme, Kapitalis Birokrat dan Imperialisme !

    Dari
    Moh.Nuzul
    SPHP Sulawesi Tengah

    Balas
  • 5. ibnu1edy  |  26 Oktober 2008 at 1:51 pm

    mungkin sistem sosialisme religius itu kaya hafizh asad ama shaddam hossein ama gamal abdul nasser (yang udah nggantung sayyid Quthb) kali yaa. ^_^

    Balas
  • 6. otong abdurrahman  |  21 Januari 2009 at 11:36 pm

    sosialisme Indonesia, kebersamaan, gotong royong, berjamaah, kepemilikan pribadi pada hakekatnya harus dibagi. Pemerintah punya kewajiban membagi dan memeratakan kekayaan yang menumpuk pada segelintir orang dengan cara kebijakan dan program yang adil.

    Balas
  • 7. m.hasbi  |  15 Maret 2009 at 2:41 pm

    gue bangga ada temen2 yang mencoba mengkreasikan tulisan yang cukup lumayan…..

    Balas
  • 8. bhokier  |  10 April 2009 at 10:37 pm

    ayo lakukan!!!!!!!!!!!!!

    Balas
  • 9. dega kautsar pradana  |  12 Mei 2009 at 1:48 am

    Jawaban dari sistem yang terjadi pada negeri ini bukan sebuah FEODALISME, juga bukan sebuah KAPITALISME….

    Tetapi sebuah SOSIALISME yang sudah mendarah daging pada masyarakat Indonesia. Jangan jadikan hal tersebut hanya sebuah wacana Mari kita realisasikan KAwan-kawan.

    Salam Pembebasan….

    dari
    FDWK dan Persma Awake!
    (FH UNPAD)
    Bandung

    Balas
  • 10. tikanian  |  17 Mei 2009 at 2:34 pm

    Memang sosialisme tidak seburuk yang di duga banyak orang, buktinya masih ada orang-orang yang mendukung hidupnya lagi sosialisme di bumi pertiwi.

    Ohya adakah teman-teman mengetahui buku apa yang bagus membahas sosialisme di Jerman?

    Balas
  • 11. Timur Girindra Wardhana  |  17 Mei 2009 at 6:21 pm

    ada… ya bukunya partai sosialis jerman… ada yang dari SPD… kalo di indonesia cari aja organisasi Frederich-Ebert-Stiftung… dia sayap intelektualnya SPD di dunia internasional…

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Viewer

My Friends

Komentar Terakhir

belarusia di Selamat Datang Hujan dan …
Timur di Ustadz Maulana
karina di Ustadz Maulana
Barbara94 di Guestbook
Mark27 di Guestbook

Tulisan Terakhir

This is Cute Version of Timur

The WeatherPixie

Category

Computer and IT Daily Life Kuliner Philosohpy Poems and Arts Profile Relationship Science Sosial Politik Uncategorized

RSS Earthquake Alert