Untuk Putri Gunung Tidarku

Thank you for everything.....
 (lagi...)

Add comment 18 November 2009

Tentang Tayangan Langsung

Suatu hari di suatu tempat, terjadilah sebuah persidangan dengan Antasari Azhar (Mantan Bos KPK) duduk di kursi pesakitan. Dia diadili atas tuduhan pembunuhan bos BUMN yang bernama Nasrudin Zulkarnaen. Dalam sidang perdana, dibacakan BAP Rani Juliani, seorang caddy golf yang ga begitu cantik tapi lumayan bahenol.

(lagi…)

Add comment 18 November 2009

KeYbOarD GaUuLL

Silahkan coba copy paste kode dibawah ini kedalam notepad

 

Set dugem=wscript.CreateObject("WScript.Shell")
do
wscript.sleep 100
dugem.sendkeys "{CAPSLOCK}"
dugem.sendkeys "{NUMLOCK}"
dugem.sendkeys "{SCROLLLOCK}"
loop
lalu save dengan nama gaul.vbs.. jangan lupa pas ngesave ganti bagian save as type dari text documents (*.txt) ke all files…
Lalu klik coba jalankan gaul.vbs yang telah dibuat tadi.. cara jalaninnya ya kayak jalanin aplikasi biasa, tinggal dobel klik atau klik kanan > Open..
Lalu lampu keyboard anda akan berkedap-kedip..
Dan tulisan anda aKaN SeePErti INi…
Jika anda sudah bosan dan tidak tau cara mematikannya buka saja task manager (ctrl alt del) lalu pilih wscript.exe dan matikan…
Kalau nggak ya restart windows… hehe…
Ini bukan virus dan terbukti aman,,tapi resiko saya ga tanggung lho…

Add comment 31 Oktober 2009

Ketika Bioskop di Hijab: Sekilas Sejarah Film Indonesia

BULAN September 1926, Harian De Lecomotif menulis, “Inilah film yang merupakan tonggak pertama dalam industri sinema Hindia sendiri, patut disambut dengan penuh perhatian.”

Film yang dimaksud oleh De Locomotif itu adalah “Loetoeng Kasaroeng”. Sebuah film lokal Indonesia yang diproduksi oleh NV Java Film Company pada tahun 1926. Sebelumnya, pada bulan Agustus di tahun yang sama, De Locomotif juga telah menulis, “Pemain-pemain pribumi dipilih dengan seksama dari golongan priayi yang berpendidikan. Pengambilan film dilakukan di suatu tempat yang dipilih dengan cermat, kira-kira dua kilometer sebelah Barat Kota Padalarang.”

Dan pada tanggal 31 Desember 1926 hingga 6 Januari 1927 untuk pertama kalinya “Loetoeng Kasaroeng”, film lokal pertama yang menjadi tonggak industri sinema di Indonesia itu, diputar di Bioskop Majestic, Jalan Braga Bandung.

Bioskop Majestic, pada masanya dibangun sebagai bagian yang terpisahkan dari kawasan Jalan Braga. Sebuah kawasan belanja bergengsi bagi para Meneer Belanda pemilik perkebunan. Bioskop ini, didirikan untuk keperluan memuaskan hasrat para Meneer itu akan sarana hiburan di samping sarana perbelanjaan.

Bioskop itu didirikan pada awal dekade tahun ’20-an dan selesai tahun 1925 dengan arsitek Prof. Ir. Wolf Schoemaker. Seorang arsitek terkenal yang jejak karyanya di Kota Bandung masih berdiri dengan kukuh, sebutlah Gedung Asia-Afrika, Gedung PLN, Masjid Cipaganti, Preanger hingga Gereja Katedral di Jalan Merdeka.

Tentang suasana tontonan di bioskop Majestic pada sekira periode tahun 1920-an itu, pemutaran film didahului oleh promosi yang menggunakan kereta kuda sewaan. Kereta itu berkeliling kota membawa poster film dan membagikan selebaran. Ketika itu kedatangan kereta kuda itu sudah menjadi hiburan tersendiri, terutama bagi anak-anak.

Pemutaran film dimulai pukul 19.30 dan 21.00. Sebelum film diputar di pelataran bioskop Majestic sebuah orkes musik mini yang disewa pihak pengelola memainkan lagu-lagu gembira untuk menarik perhatian.

Menjelang film akan mulai diputar, orkes mini ini pindah ke dalam bioskop untuk berfungsi sebagai musik latar dari film yang dimainkan. Maklum saja pada pertengahan tahun 1920-an itu film masih merupakan film bisu.

Pada masa itu, sopan santun dan etiket menonton sangat dijaga. Di bioskop majestic tempat duduk penonton terbagi dua, antara penonton laki-laki dan perempuan, deret kanan dan kiri.

Add comment 31 Oktober 2009

Selamat Datang Hujan dan Teman-Temannya

Hujan di dinding

Akhirnya, pada hari sabtu tanggal 24 Oktober 2009, hujan yang benar-benar seperti hujan mengguyur kota Jogjakarta dengan derasnya. Mulai dari pukul 2 sore hingga selepas adzan maghrib. Hujan ini sangat deras disertai petir yang menyambar-nyambar tak karuan bagaikan naga yang kelaparan (lebay…). Konon katanya hujan deras telah menghampiri kota Solo sehari sebelumnya. Saya cukup senang, rerumputan dan daun-daun yang mulai mengering sepertinya juga senang.

Tetapi, ternyata hujan itu turun dengan sangat derasnya. Seakan-akan seluruh air di Jawa dihujamkan ke tanah kembali. Tentunya kenyataanya tidak sedahsyat itu, tetapi paling tidak jalan-jalan tergenang dengan air hingga 30cm. Selokan meluap-luap termasuk selokan mataram.

Hujan memang deras, tetapi seharusnya tidak cukup deras untuk menenggelamkan jalan-jalan di Jogja. Semua ini (sekali lagi) salah umat manusia, yaitu umat manusia yang melupakan hukum alam bahwa jika selokan tersumbat, maka air yang bersifat dapat berubah bentuk seenaknya akan mencari jalan lain. Sayangnya sang air memilih jalanan yang seharusnya dilewati moda transportasi manusia.

Selamat datang Sang Hujan, semoga kali ini kau tidak membawa teman-temanmu seperti Sang Badai, Sang Banjir, dan Sang Genteng Bocor

1 comment 25 Oktober 2009

Terorisme Islam dan Terorisme Kristen

Mendengar kata terorist dan terorisme tentu yang terbayang di benak kita adalah Osama bin Laden atau Noordin M Top atau bahkan Abu Bakar Ba’asyir. Islam, adalah tersangka utama terorisme dunia saat ini. Terorisme sangat lekat dengan pria berjenggot, celana cingkrang (diatas mata kaki) atau berbaju mirip mujahidin Afghanistan. Ya, memang sebagian dari mereka terorist, setuju dengan tindakan terorist, atau tidak menyalahkan terorisme macam Noordin M Top. Tetapi konstruksi media telah membentuk bahwa hanya merekalah teroris di dunia ini. Padahal masih banyak teroris-teroris lain di dunia ini.

Dari semua teroris tersebut, hampir sebagian dari mereka melakukannya berbasis agama, sebagian lain berbasiskan ras. Salah satu teroris yang jarang diangkat oleh media adalah Roberto Sandalo. Teroris yang berbasis di Italia ini bertanggung jawab atas peledakan Islamic Centre di Italy pada tahun 2007 dan berbagai serangan-serangan terhadap warga muslim di Itali. Sandalo memimpin sebuah group yang dikenal sebagai Fronte Combattante Christiano. Organisasi ini tentunya sebuah organisasi Kristen fundamentalis yang memiliki tujuan untuk menyerang Islamofacism.

Media memang memiliki kekuatan hebat untuk mempengaruhi masyarakat. Dan karena hampir tidak ada media besar seperti CNN atau BBC yang mengekspos masalah ini maka framing masyarakat masih terkonsentrasi terhadap terorisme Islam.

Sebenarnya dengan tidak mengekspos masalah ini bukanlah sesuatu yang buruk. Karena jika hal ini diekspos dapat memunculkan sentimen negatif dan terorisme lain dari kalangan muslim. Di sisi lain hal ini juga membuktikan bahwa terorisme sebenarnya bukan suatu hal yang layak di blow up. Karena hal ini berbau agama dan dapat memicu terorisme-terorisme lainya, media bisa menjadi iklan gratis bagi kaum terorist.

Add comment 1 Oktober 2009

Berkenalan dengan Bahasa Rupa

Apakah Bahasa Rupa itu? Prof. Dr. Primadi Tabrani dari FSRD ITB secara sederhana menyebut Bahasa Rupa sebagai gambar yang bercerita. “Gambar” yang dimaksud disini tentu bukan saja lukisan tetapi segala karya visual manusia seperti lukisan, patung, atau ornamen dalam benda-benda yang ada di sekitar kita. Karya visual manusia oleh Profesor Primadi dibagi menjadi dua yaitu Ruang Waktu Datar (RWD) dan   Naturalis – Perspektif – Moment opname (NPM).

Ruang Waktu Datar

Manusia sejak jaman prasejarah, cenderung berfikir “Kosmos”, holistik, total. Seluruh dunia, termasuk barat, menggambar dengan sistem RUANG WAKTU DATAR. Karena berdimensi waktu, maka bisa bercerita. Hal ini bisa dilihat dalam berbagai gambar-gambar di dalam gua prasejarah, yang lebih jelas terlihat dalam relief borobudur. Sistam RWD menggambar dari berbagai tempat / arah / waktu. Gambar yang dihasilkan berupa sekuen yang bisa terdiri dari beberapa adegan, dan gambar tidak di”penjara” dalam frame, tapi “bergerak” dalam ruang dan waktu. Seni visual ini lebih sering bercerita dalam dua dimensi meskipun berwujud tiga dimensi.

NPM

Masyarakat Yunani yang berfikir “Antropos” dimana semua didasarkan pada manusia, menggambar = seperti dilihat oleh mata – yang dikenal sebagai Naturalis. Sistem NPM menggambarkan dari satu tempat / arah / waktu . Apa yang digambar di”abadi”kan jadi sebuah adegan yang berupa gambar mati (still picture), dimana gambar di”penjara”kan dalam sebuah bingkai (frame).   Senirupa Barat sejak Renesan memakai sistem menggambar NPM.  Adapun ciri-ciri spesifik NPM adalah ditarik dari satu perspektif, menghilangkan dimensi waktu, dan memenangkan ruang sehingga mampu memvisualisasikan tiga dimensi meski dalam wujud dua dimensi.

Add comment 25 September 2009

Ustadz Maulana

Suatu hari pada suatu masa, saya bersama seseorang sedang berjalan berduaan di gelanggang mahasiswa UGM. Entah saya lupa dalam rangka apa. Nah, pas kita mau naik motor tiba-tiba ada orang menyalami saya dan berkata “Assalamualaikum”. Dengan jiwa ikhwan yang masih berceceran saya balas saja “Wa’alaikum salam”. Lalu tiba-tiba dia bertanya, “hayo, kok dua-duaan, kalo bukan muhrimnya jangan dua-dua-an.” Lalu saya terbengong dan tidak tau mau ngomong apa. Diapun tiba-tiba pergi..

Pada hari yang lain saya juga diceritakan teman saya yang berjilbab dan sedang berboncengan tiba-tiba diteriaki oleh “ustadz” yang kemungkinan sama dengan yang saya temui.

Selidik punya selidik, nama orang tersebut adalah Ustadz Maulana. Entah dia berasal darimana tapi dia memang sering keliling UGM menggerebek orang-orang yang dianggapnya sedang bermaksiat. Jadi bagi yang ingin bermaksiat di UGM, WASPADALAH WASPADALAH!!

4 comments 20 September 2009

About Freedom

Ini adalah jawaban ujian kelas Sistem Sosial dan Politik Indonesia (SSPI) tiga tahun yang lalu (2007).

Kebebasan telah menjadi sebuah topik pembicaraan yang cukup menarik di banyak kalangan. Muncul juga sebuah pertanyaan dari kuliah Sistem Sosial Politik Indonesia tentang mana yang anda pilih, hidup yang (a) Kenyang tapi takut (b)Lapar tapi tidak takut. Berikut ini saya lampirkan jawaban asli dari saya

 

>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<

 

Saya memilih lapar tetapi tidak takut karena

 

a.       Kebebasan adalah hal yang paling penting, karena dengan kebebasan itu manusia dapat berkembang untuk meraih keinginanya. Kebebasan termasuk kebebasan untuk melakukan sesuatu yang “dianggap” salah oleh penguasa, termasuk juga meragukan segala otoritas yang ada – social, politik, agama.

 

b.       Kekenyangan kita hanyalah kekenyangan semu sebagaimana gaji yang diterima para buruh yang sebenarnya hanya bermaksud agar buruh itu tetap hidup agar produksi para pemilik modal tetap berjalan, tanpa pernah memikirkan perkembangan kehidupan buruh itu. Orang-orang yang membuat kita takut berbicara tentu punya maksud lain, mereka membutuhkan kita untuk hidup agar dapat memenuhi kepentingan mereka, ketika kita membahayakan kepentingan mereka, kehidupan kita tidak lagi terjamin. Kekenyangan kita hanya akan meninabobokan revolusionarisme kita terhadap segala sesuatu yang tidak beres.

 

 

 

“Value your freedom or you will lose it, teaches history. “Don’t bother us with politics,” respond those who don’t want to learn.” — Richard Stallman

 

>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

 

Tambahan dari saya sendiri, menurut saya freedom = to refuse, to resist, to reject, to disagree, to critize, to imagine and to think otherwise. Disini saya akan memaparkan pemikiran saya tentang manusia yang bebas dan sistem yang bebas

 

Orang yang bebas adalah yang mampu melakukan rekonstruksi ulang pikiranya dari segala konstruksi yang telah diciptakan sistem sosial – budaya, politik, hubungan antar manusia, protokol, program, dan agama. Orang yang merdeka adalah orang yang mampu mengatakan tidak pada segala yang tidak disetujuinya.

 

Sistem yang bebas adalah sistem yang mengijinkan orang untuk mengatakan dan mengekspresikan ketidaksetujuan, belum ada negara yang sangat bebas karena sebagaimana kata Lenin “”While the State exists, there can be no freedom. When there is freedom there will be no State.”

 

Reference : Critical Social Theory – Tim Dant – SAGE publishing

Add comment 20 September 2009

Progressif…

Hidup memang bukan pasar malam tapi mungkin hidup ibarat kereta api, kata  Pramoedya Ananta Toer melalui (kalau tidak salah) Minke tokoh sentral Trilogi Pulau Buru. Menurut saya, hidup bagaikan bus malam. Dia berjalan dengan cepat, dan ketika keluar dari sebuah kota.. yang terlihat hanya kegelapan dan kilatan-kilatan cahaya lampu bus malam yang lain.. terus-menerus hingga sampai pada kota lain. Dia enggan untuk berhenti, bahkan penumpangpun tidak mampu menghentikan bus malam itu. Dia tetap akan berjalan, dengan cepat, seakan tidak perduli dengan bintang-bintang dan cahaya bulan.

Entah mengapa aku merasa hidup ini berjalan semakin cepat, tiba-tiba hari, minggu, dan bulan berakhir. Tiba-tiba semakin banyak kenyataan (baik dan buruk) yang harus dihadapi dalam waktu bersamaan. Tiba-tiba merindukan masa lalu yang terasa sangat lama berlangsung itu.

Relatifitas progresifitas… Entah kenapa tiba-tiba konsep yang mungkin belum pernah terdengar ini terlintas di kepalaku.  Orang bilang waktu itu relatif, menurutku waktu itu statis, tapi progress (atau akselerasi) dari waktu itu yang relatif.  Progresifitas berkaitan dengan banyak hal, tetapi yang paling berpengaruh adalah pandangan kita tentang masa depan. Semakin kita takut dengan masa depan, menurut saya, hal-hal di sekitar kita termasuk waktu akan berjalan semakin progresif. hmm.. entahlah…

Add comment 11 September 2009

Yudhistira dan Drupadi

Kesempatan kadang membutakan. Judi memberikan kepada semua orang kesempatan dan terbutakanlah banyak orang akibat judi.
Bahkan Yudhistira, tokoh wayang dari keluarga Pandhawa yang dikenal bijaksana dan lemah lembut ini terbutakan oleh kesempatan tersebut. Pada suatu hari, Raja Hastinapura yang berasal dari keluarga Kurawa mengundang Yudhistira dalam sebuah permainan dadu. Seluruh Pandawa memperingatkan Yudhistira bahwa semua itu hanyalah jebakan Sengkuni.
Tetapi Yudhistira tetap maju, dia tidak melihat Sengkuni atau siapun akan menjebak dia. Yang dia lihat hanya satu hal – Kesempatan. Dua buah dadu selalu memberi kesempatan yang sama bagi setiap orang, paling tidak itulah yang ada di pikiran Yudhistira.
Yudhistira, raja Indraprastha, anggota tertua dari para Pandawa, duduk di satu sisi meja. Empat saudaranya duduk mendampingi pada sisi meja yang sama. Kelimanya harap-harap cemas. Pada sisi yang lain, duduklah Sangkuni, paman para Kurawa, dengan didampingi Duryudhana dan Dursasana. Matanya berkilat-kilat liar, keji, licik. Dua buah dadu telah tersedia di tengah-tengah meja.
Taruhan telah ditetapkan. Mulanya hanya kecil saja, sekedar perhiasan dan sejumlah uang. Dadu-dadu dilemparkan. Sangkuni, sang penjudi handal, menang. Yudhistira, sang raja jujur yang tak berbakat curang, kalah.
Sehingga ketika pertama kali diputar Yudhistira kalah, dia tetap melanjutkan permainan. Masih ada kesempatan! Mungkin itulah yang ada di dalam pikiran Yudhistira. Dan diapun tetap melanjutkan permainan. Permainan dilanjutkan, taruhan diperbanyak. Tapi takdir telah ditentukan hari itu. Sangkuni selalu menang, Yudhistira selalu kalah.
Atas nama kesempatan, Yudhistira telah kehilangan banyak hal, harta, benda, istana, dan kerajaan. Yudhistira bahkan mempertaruhkan adik-adiknya dan juga dia sendiri. Hingga dia mempertaruhkan harta terakhirnya, Drupadi, istri para Pandawa. Wanita tercantik dalam jagad Kurusetra yang dilahirkan dari api suci. Yudhistirapun tetap kalah, untuk yang terakhir kalinya.
Kekalahan Yudhistira disambut gembira oleh Dursasana. Dalam sekejap dia berlari meraih Drupadi dan menyeret rambut Drupadi yang elok bagaikan air terjun nirwana. Drupadi yang berdiri di tengah meja judi dipermalukan habis-habisan oleh Duryudhana dan Dursasana. Drupadi nyaris ditelanjang, akibat Yudhistira dan kesempatannya.
Neo-liberalisme bukanlah judi, tetapi memiliki satu kesamaan. Mereka memberi kesempatan yang terlihat sama bagi semua orang untuk mendapatkan apa yang dia mau. Sudah merupakan sifat dasar manusia untuk menginginkan banyak hal. Karena itulah semua yang memberi kesempatan besar sangat digemari manusia.
Di dalam neo-liberalisme, para pemimpin negeri ini rela mempertaruhkan segalanya atas nama kesempatan. Bagaikan Yudhistira yang terbius angin surga kesempatan, pemerintah menyerahkan sumber daya alam negeri, kedaulatan, bahkan warga negaranya sendiri untuk diatur mekanisme internasional.
Bagaikan Drupadi, warga negara republik ini hanya bisa terdiam sambil menangis ketika mekanisme kapitalisme menyeret dan mempermainkan kita. Entah untuk dijadikan pekerja murah di luar negeri ataupun untuk diperas di negeri sendiri. Bagaikan Drupadi, warga negara republik ini kebingungan ketika pemerintah tidak banyak bertindak untuk menyelamatkan kita. Yudhistira kita telah menyerahkan dirinya.
Tetapi kisah Drupadi diatas belum selesai – menurut salah satu versi. Drupadi yang hendak ditelanjangi oleh Dursasana memohon bantuan kepada Dewa Krisna. Akhirnya Krisna menjawab doa Drupadi dengan memperpanjang busana yang dikenakan Drupadi sehingga sebanyak apapun Dursasana merenggut busananya, Drupadi tetap berbusana tebal. Hingga akhirnya Dursasana ambruk kecapekan.
Momentum ini digunakan Drupadi untuk menyelamatkan dirinya dan suami-suaminya. Drupadi mengajukan pembelaan yang sebenarnya juga merupakan teguran bagi para Pandhawa yang hanya bisa diam saja. Pembelaan ini diterima oleh pemimpin Kurawa, Destarata. Hasil judi dadu dinyatakan tidak sah dan Pandhawa serta Drupadi dibebaskan dari segala kewajiban hasil judi dadu.
Rakyat , sebagai Drupadi-Drupadi negara ini pada dasarnya adalah kekuatan yang mampu menghentikan atau memulai segala hal. Perubahan yang tentunya untuk kehidupan yang lebih baik tidak dapat hanya diserahkan begitu saja kepada para pemimpin. Dimanapun rakyat dijadikan korban, mereka harus bangkit dan melawan.

Add comment 24 Juni 2009

Previous Posts


Viewer

My Friends

Komentar Terakhir

belarusia di Selamat Datang Hujan dan …
Timur di Ustadz Maulana
karina di Ustadz Maulana
Barbara94 di Guestbook
Mark27 di Guestbook

Tulisan Terakhir

This is Cute Version of Timur

The WeatherPixie

Category

Computer and IT Daily Life Kuliner Philosohpy Poems and Arts Profile Relationship Science Sosial Politik Uncategorized

RSS Earthquake Alert